BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Notifications!

29/04/2010, Thursday.

http://emo.huhiho.com

Semoga kita selalu menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan..

Memoirs

Wednesday, February 10, 2010

Drama

Bonsoir, people. Heey. Long time no post, yeah?

Iyee, kemana aja sih lo, Din?

Iya! Maaf. Hampura. Ampuni aku yang sudah lalai mengupdate blog ini. Gue sedang sibuk dengan latihan-latihan ujian, terus UTS praktek dan latihan UASBN gelombang 2. Jadi karena gue harus memfokuskan otak untuk belajar, waktu ngeblog dan leyeh-leyeh juga hampir nggak ada.

Akhirnya di malam yang sesunyi ini, aku sendiri, tiada yang menemani... Eh, malah nyanyi. Kayak yang suaranya bagus aja. Iya pokoknya di malem ini, gue menyempatkan ngeblog lagi, sekalian blogwalking.

***

Kemaren, hari Selasa, kita terima kabar kalo Farah sakit. Cacar air.
Wah, sekelasan langsung heboh. Ya, kayak orang-orang yang belum pernah merasakan cacar itu nanya sana-sini.

Akhirnya Imbisil pengen jenguk Farah, yang rumahnya deket dari sekolah. Tapi kata Pahe, yang udah pernah cacar aja yang boleh, yang belum pernah, jangan.

Di antara kita berlima, yang udah pernah cacar cuma gue sama Rizal aja. Kebetulan kita berdua yang rumahnya deket sama Farah. Rizal di Ciburial, dan ada rumah nenek gue di perkomplekan yang sama kayak Farah. Makanya gue sering main ke rumah dia.

Ya udah, rencana jenguk-jenguk itu tidak ditindak-lanjuti.

Habis itu ada pelajaran Bahasa Indonesia. Kita lagi ngebahas drama. Akhirnya Pahe nyontohin kita, cara mengimprovisasi sebuah naskah cerpen biasa, jadi sebuah drama. Cerpennya judulnya "Pangeran Puja Kelana".

Pahe jadi si Pangeran. Firlii ditarik jadi pengawalnya. Ceritanya mereka lagi jalan-jalan di pasar. Sebagai pengganti tombak, Firlii bawa gitar sambil ngawal Pahe.

"Pengawal..." si Pahe memulai. "Kamu ini sudah lama mengawal saya."

Si Firlii menjawab, "Iya," aja, tampangnya yang... kalem.

"Sudah berapa lama kamu mengawal saya?"

"Wah, saya tidak tahu," si Firlii jawab, spontan, tiis.

Semuanya pada ketawa.

Pahe menunjuk gitar, "Kenapa kamu bawa gitar?"

"Disuruh," jawab si Firlii kalem lagi. Eeh, semua ketawa lagi.

Terus akhirnya muncul adegan si Rizal membawa pesan dari Baginda Harya Wijaya, ayahnya si Puja Kelana.

"Pangeran," kata si Rizal sambil nunduk. "Saya membawa pesan dari Ramanda Pangeran."

"Lah, siapa kamu?" Pahe menunjuk Ijal bingung, terus menoleh sama Firlii. "Dia siapa, ya? Kayaknya kenal..."

Rizal merasa terlecehkan. "Ih, saya itu pengawal dua, Pangeran! Pengawal dua!"

"Oooooh! Yaya, maaf. Baru inget," Pahe nepuk-nepuk bahu Ijal. "Ngapain ke sini?"

"Saya bawa pesan dari Ramanda Pangeran."

"Oh! Ramanda berpesan!" Pahe berseru. "Oy, penontooon..."

"Ooooy," murid-murid menjawab. Jadi kayak lenong aje.

"Biasanya, Ramanda kalau misalnya nitip pesen, suka ada yang penting-pentingnya deh," kata Pahe. "Iya, biasanya pesen martabaak, gitu atau apaa..."

Pahe mendekati Rizal lagi, "Nggak pesen martabak?"

"Oh, enggak Pangeran," jawab si Rizal. "Paling pesen gehu."

Semua langsung ngakak.

Tau gehu nggak? Tahu yang isinya toge, dan beberapa sayuran lain. Enak loh, apalagi kalo dimakan bareng cengek (cabe ijo). Maknyus.

"Ramanda itu...!" Pahe berseru. "Kalo makan gehu, gehunya cuma satu, cabenyaaa...!"

"Sekilo," celetuk Firlii.

"SEKILO! Bener itu!" Pahe nunjuk-nunjuk Firlii. "Pengawal saya ini, saking lamanya mengabdi sampe hafal."

Firlii nyengir.

"Iya, tho! Gehunya baru dipandang, cabenya? Udah abis dimakan!" seru Pahe lagi. "Karena kebanyakan makan cabe, pantatnya itu serasa panas loh, penonton!"

Semua ngakak lagi.

"Udah sana, beli gehu," perintah Pahe pada Firlii.

"Sip," Firlii mulai melangkah.

"Eeh, ada uangnya nggak?"

"Eh, nggak ada bos!"

Pahe pura-pura mengeluarkan segepok uang dari sakunya, terus abis itu mengambil selembar buat dikasihkan sama Firlii. Si Firlii pura-pura beli ke si Fanny, terus kembali lagi ke Pahe.

"Nih, gehunya, Pangeran!"

"Loh, kok cuma satu?!" Pahe bertanya.

"Yang lain di truk, Pangeran!"

Ngakak lagi.

Wah, pokoknya masih panjang deh. Belum sampe ke bagian penyerahan tahta! Harus liat sendiri biar lucunya lebih kerasa. Aaah, ramenyaaaa...

Terus abis itu kan jam kedua B.I., Pahenya kudu ke kampus, jadi kita kosong selama 45 menit pelajaran. Dan selama itu, Imbisil ngebahas bokep-bokep lagi, sama horor.

"Gue udah nonton trailer film *sensor*, asik loh," kata si Firlii.

"Oh iya, ada adegan itunya ya," kata gue. "Kayaknya rame yah, Fir. Nonton yuk?"

"Hayu."

"Wah, film apa sih?" Yubi nanya.

"*sensor*, kayaknya rame. Nonton yuk aah..." gue ngajakin lagi.

"Wah? Ada yang begituannya kan?" si Yubi nanya Ijal.

"Heueh, Yub. Ngiluan, yuk ah," si Rizal menjawab semangat.

"Gue mah hari Jumat emang udah mau nonton bareng anak-anak Neutron," kata Fafa.

"Eh, tapi yang begituan nggak pake KTP emang?" Yubi nanya.

"Enggak," jawab gue. "Elo kan tinggi, Yub. Ntar elo yang beli tiketnya yah."

"Oke, nggak masalah."

"Tapiiii, bisi nggak boleh ya, mendingan beli DVD-nya terus nonton bareng di rumah," kata Rizal. "Rumah aku mau?"

"Ayooo!" semua semangat.

Ya udah, pembahasan lebih lanjutnya belom. Maafkan kami, kami memang anak-anak tidak sehat. Tapi ini pengaruh pubertas kok, jadi yah.. it's natural.

***

Sudah ya, gue masih ada PR bejibun.
Bonsoir, people :)


0 comments: