BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Notifications!

29/04/2010, Thursday.

http://emo.huhiho.com

Semoga kita selalu menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan..

Memoirs

Showing posts with label books. Show all posts
Showing posts with label books. Show all posts

Thursday, March 25, 2010

Ngomongin Cinta-Cintaan

Bonjour, bloggers.

Sekarang lagi tumben gue bisa update sore-sore, hehe. Mumpung lagi nggak ketiduran, mahaha. Lagian, gue laper banget guys (emang nyambung apaan laper sama ngupdate blog?)! Ya sebenernya lagi nonton Naruto sih, haha.

Eh, Din, perasaan lo dari kemaren nontonnya Naruto terus ya?

Iyaaaa, kan rame. You know?

Yes, I know.

Okelah kalo begitu.

Sudah cukup dialognya. Sekarang, sesuai judul, kita bakal ngomongin cinta-cintaan. Mwahahaha. Sebagai pembuka, gue akan memberi sebuah tulisan, baca baik-baik yaa. Resapi maknanya *idih, haha*.

***

Dear Diary,

Hai Di, udah lama Vella ngga nulisin kamu yah, banyak banget yang Vella mau ceritain ke kamu Di. Tadi pagi Vella sama temen-temen ngomongin cowok masing-masing. Di masih inget sama Evan kan? cowoknya Vella? Vella malu banget deh sama dia. Dia soalnya nggak kayak cowok-cowok temen Vella yang lain Di. Sebel deh sama Evan, bayangin deh Di semua minusnya Evan nih yah:

• Minus 10 karena dia nggak punya handphone, padahal cowok-cowok temen Vella yang lain punya handphone.

• Minus 10 karena dia nggak dibolehin nyetir mobil sama ortunya karena belum 17, padahal cowok-cowok temen Vella yang lain biar sama-sama SMP udah boleh bawa sendiri!

• Minus 10 karena dia itu rambutnya cuma cepak biasa, padahal cowok-cowok temen Vella yang lain itu rambutnya gaya abhies.

• Minus 10 buat dia karena dia itu nggak suka ketempat-tempat dugem Di, padahal Vella suka banget ke sana, malu banget nggak sih punya cowok kayak gitu.

• Minus 10 buat dia lagi Di, karena dia nggak punya satu pun jacket XSML, padahal cowok-cowok temen Vella yang lain sering banget belanja disana, kalau dia sih paling pake bajunya bangsa bangsa jacket yang merek FILA (idih banget nggak sich Di!).

• Minus 10 banget (dan yang ini banget banget-banget) karena dia masih suka bawa makanan dari rumah buat makan siang ke sekolah! Gila yah Di, malu-maluin banget nggak sih!


Sumpah yah Di, Vella malu banget sama dia, kayaknya mau putus aja deh Di.
---------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------------------

Dear Diary,

Hari Ini valentine, pas Evan ke kelas Vella mau kasih kado, Vella cuma diem aja. Seharian itu Di, Vella ngindarin dia abis-abisan, dia bingung gitu kayaknya Di, kenapa Vella ngindar terus.


Sampe rumah dia nelepon Vella, Vella males tapi ngomong sama dia Di, Vella suruh pembantu bilang ke Evan kalau Vella belum pulang. Dia nelepon 4 kali hari itu tapi Vella males nerima.

Kira-kira 3 harian deh kayak gitu, tiap di sekolah Vella ngindarin Evan pake cara ke WC cewek lah atau ngumpet-ngumpet lah, dan di rumah Vella selalu nggak mau nerima telepon dari dia, kayaknya Vella bener-bener udah illfeel dan malu pacaran sama dia Di!

Akhirnya waktu itu hari Senin, seperti biasa pas di sekolah, Vella ngindarin dia. Pas pulang sekolah Vella ngumpul di kantin sama temen-temen Vella.

Mereka pada nanya kok Vella ngindarin Evan terus Vella diem aja, tapi setelah didesak akhirnya Vella ngaku juga Vella ngomong, "Ah bete banget gue sama tuh cowok, udah nggak ada modal mendingan gaul, dan mukanya setelah gue pikir-pikir biasa banget, ya ampun kok gue dulu mau yah jadi sama dia? dipelet kali yah gue!!"

Tiba tiba semua pada diem dan ngeliat ke arah punggung Vella, Vella bingung dan nengok Di, ya Tuhan Di, ternyata ada Evan di belakang Vella dan kayaknya dia denger yang Vella baru ucapin barusan. Vella cuma bisa diem tapi Vella sempet ngeliat Evan sebentar. Dia diem, mukanya nunduk ke bawah terus dia pelan-pelan pergi dari situ.


Vella diem aja, ada beberapa yang ngomong "Hayo loo Vel, dia denger lho!!"


Tapi ada juga yang ngomong, "Udahlah Vel, baguslah denger, nggak ada untungnya tetep sama dia, ntar elo juga bisa dapet yang lebih bagus."


Bener juga yah Di, ya udah Vella cuek aja, syukur deh kalau dia denger. Dia mau minta putus juga ayo, mau banget malah Vella.


Dua hari pun berlalu Di, dan sejak saat Evan udah nggak berusaha nyamperin Vella di sekolah atau nelepon Vella. Tiap ketemu di sekolah dia cuma diem dan ngelewatin Vella aja.


Seminggu berlalu, 2 minggu berlalu sejak hari itu, Vella mulai ngerasa ada sesuatu yang ilang Di, nggak tau kenapa Vella mulai ngerasa kehilangan sesuatu, kadang-kadang Vella suka bengong bingung sendiri, cuma Vella berusaha ilangin perasaan itu. Vella nggak tau kenapa jadi males kemana mana, pengennya sendiri aja, males ngapain. Semua orang jadi bingung kenapa Vella berubah jadi kayak gini. Vella sendiri juga nggak tau kenapa Di.

--------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------
Dear Diary,

Minggu malem nih Di, Ujan deres banget, Vella diem dan ngerenung di dalam kamar. Tiba-tiba di channel V ada lagunya Janet Jackson Di! Tau kan liriknya?


Doesn't really matter what the eyes is seeing,

Cause im in love with the Inner being.


Saat itu tiba-tiba Vella nangis Di, Vella baru sadar... Betapa baiknya Evan... Vella nangis senangisnya Di, karena Vella baru sadar betapa begonya Vella...


• Minus 10 karena Evan nggak punya HP Di,tapi plus 100 karena dia tiap malem rela jalan jauh ke wartel buat Nelpon Vella ngucapin selamat tidur setiap hari...


• Minus 10 karena dia nggak dibolehin nyetir mobil sama ortunya karena belum 17 Di, tapi plus 100 karena tiap malem minggu dia rela naik sepeda jauh dari kemang ke bona indah khusus ngapelin Vella biar ujan sekalipun...


• Minus 10 karena dia rambutnya cuma botak biasa dan nggak suka di spike, tapi plus 100 karena dalam keadaan rambut Vella apapun baik bagus maupun lagi jelek, mau salah potong atau salah blow atau salah model dia selalu bilang Vella cantik banget...


• Minus 10 karena dia nggak suka ke tempat dugem Di, tapi plus 100 karena dia rela nemenin Vella ke tempat-tempat kayak gitu, meski dia nggak suka dan rela dimarahin ortunya karena pulang pagi nemenin Vella... dengan naik taksi ke rumahnya...


• Minus 10 karena Evan nggak punya jacket XSML dan hanya punya jacket FILA biasa, tapi plus 100 karena kalau ujan di sekolah dia selalu minjemin Vella jacketnya meski dia sendiri kedinginan...


• Minus 10 karena dia bawa makan siang ke sekolah, tapi plus 100 karena ternyata nabung uang jajan makang siangnya buat beli kado valentine buat Vella...



Dari 60 minus yang Evan punya Di, dia punya 600 Plus di hati Vella... dari 1000 kekurangan Evan, dia punya semilyar kebaikan... Ya Tuhan Di, betapa begonya Vella yah... Vella yang beruntung sebenernya punya cowok Evan, dan Vella juga yang nyakitin Evan, padahal nggak pernah sekalipun dia nyakitin Vella. Malemnya Vella nangis lama banget Di.

--------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------
Dear Diary,

Vella ketemu sama Evan di sekolah. Vella kejar dia dan bilang Vella mau ngomong, Evan diem aja, tapi pulang sekolah dia nanya Vella mau ngomong apa. Vella kasih dia kartu buatan Vella, Vella cium pipi dia dan Vella bilang minta maaf karena Vella udah nyakitin dia. Dia cuma diem aja terus pulang... Vella cuma bisa diem karena sadar, Vella yang berbuat, Vella juga yang kehilangan... Sakit banget rasanya Di, Vella pulang sekolah nangis tapi juga sadar itu semua Vella yang bikin dan Vella pula yang nanggung resiko-nya...


Malem itu tiba tiba mama ngetok pintu kamar Vella, katanya ada telepon. Ternyata bener Di, itu Evan, dia udah maafin Vella, dia udah lupain semuanya... aduh Di, girang banget hati Vella, hi hi hi senengnya.


Nanti malem Evan mau kesini Di, dan Vella mau dandan secantik-cantiknya buat Evan, jadi Vella udahan dulu yah Di... thanx banget udah denger curhat-nya Vella, Vella belajar satu hal Di:


Hargailah apa yang kamu miliki sekarang,

Karena tanpa kamu sadari,
Kamu begitu beruntung telah memiliki-nya.

Selamat malem diaryku...


NB:

Minus 10 Di, karena mukanya tidak tampan, tapi plus 100 karena hatinya luar biasa tampan...

Doesnt' Really Matter what The eyes is seeing cause im in love with the Inner being.

***

Whoa, deep.

Buat gue sih tuh cerita bagus ya. Menurut gue, don't judge a book by its cover. Fisik emang penting, karena fisik itu yang kita bawa waktu tampil di depan publik, tapi jangan pernah elo semua nilai orang dari penampilan luarnya. Kita bisa aja tertipu, kan?

Kalo misalnya cowok lo tampangnya pas-pasan, tapi kalo waktu jalan di depan umum dan dimanapun, dia itu selalu baiiiik sama lo kayak Prince Charming. Maksud gue, orang-orang nggak bakal lagi komentar, "Ih, cowoknya jelek," tapi mereka bakal komentar, "Ya ampun, cowoknya baik banget ya mau begini atau begituuu...".

Kalau cowok lo baik, tampang mungkin udah nggak perlu dinilai lagi. Kalau jatuh cinta, jatuh cintalah pada isinya, jangan pada cangkangnya.

***

Kisah cinta tragis itu selalu ada lah, pastinya. Tapi plis deh, kalo suka sama orang jangan didramatisir.

Tapi, Din. Kalo misalnya jatuh cinta kan, aku suka tiba-tiba sensitif gituuuuwwwh.. Iiiyh...

Please, deh. Ya kalo masih normal sih nggak pa-pa, tapi please ya, setiap masalah cinta tuh nggak usah didramatisir. Mungkin aja itu ujian buat cinta kalian *cieh*.

Kan jaman sekarang tuh orang meninggal, penyebabnya rada-rada nggak penting. Maap ya, buat kakak-kakak yang SMA gitu, tapi kalo misalnya diputusin pacar atau kenapa-napa,

jangan bunuh diri.

Kata gue sih ya, GILA itu sebutan yang pas untuk orang yang memilih untuk mengakhiri masalah dengan cara mati. Kayak hidup tuh udah sedih semua kagak ada seneng-senengnya. Percaya deh, dibalik semua masalah dan kesusahan, ada akhir yang bahagia.

Eh, sekarang banyak ya SMS yang isinya setan-setanan yang bakal muncul di dekat tempat tidurmu jam dua malam, blablabla gitu. Terus terang, gue sama sekali nggak percaya. Apalagi kalo ada nomor ditelepon setan nyanyi begitu. Eh, coba bayangin, setang gaul nomornya XL, booooooo. Emang sih XL jangkauan luas, cuma... nyampe alam kubur kah?

Nah, biasanya SMS-SMS kayak gitu tuh ada ceritanya dulu. Ada yang menyesal gara-gara pacarnya kecelakaan, desperate gara-gara diputusin pacarnya, pacarnya selingkuh (btw, siapakah yang menciptakan frase kalo "selingkuh itu indah"? Selingkuih itu MONYONG tauuuk), sebagainya, dan yang paling mengenaskan, karena hamil di luar nikah.

Extreme, right?

Lo tau nggak?

Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Boyke Dian Nugraha (seorang ahli obstetric dan ginekologi) di suatu klinik aborsi, ditemukan 50% pengunjungnya berusia 15-20 tahun dan 44,5% diantaranya hamil diluar nikah (Republika, 1999).

Hebat banget Indonesia sekarang.

Penyebab pertama sih, tentu aja ya seks bebas. Salah mereka sendiri maen mau aja sama cowok (atau ceweknya yang ngajak? hmmm..), akibatnya juga lo udah sering denger kan? Eeeh, udah dapet gitu malah bunuh diri. Hey, berani berbuat, berani bertanggung jawab dong.

Yang pertama, cewek yang hamil diluar nikah tentu aja menanggung malu dong. Yang kedua, mereka menanggung nyawa. Kalo mau aborsi ini bayi, berarti mereka pembunuh. Kalo enggak, takut malu. Jadi mereka lebih milih mati aja, biar lebih gampang.

Naaah, sebagian juga salah cowoknya toh yaa. Lo mau tanggung jawab nggak, ngehamilin anak orang? Kalo kabur mah ya, pengecut banget tuh cowok. Apalagi kalo udah janji palsu-janji palsu. Hiiih, gilaaa.

Naah, yang jadi korban kebegoan kita adalah bayinya. Pernah nggak sih, elo ngebayangin perasaan bayi yang tidak diinginkan? Mereka diaborsi, dan kalaupun dibesarkan, mereka dibesarkan dengan sistem child abuse, seperti Cinderella. Ada juga yang ditinggal di tempat sampah atau depan rumah orang. Pernah lo bayangin nggak?

Mungkin waktu kecil mereka nggak tau, tapi cepet atau lambat, mereka juga pasti bakal tau. Dan reaksi pertama, adalah syok berat, pastinya. Pengen nangis terus.

Pernah nggak elo baca bukunya Torey Hayden yang "Somebody Else's Kids", atau "Mereka Bukan Anakku"?

Di sana ada seorang anak umur 12 tahun (seumur gue, masih kelas 6 SD), namany Claudia, hamil di luar nikah.
Claudia hamil sama pacarnya, anak kelas 3 SMP, namanya Randy. Claudia itu dari keluarga baik-baik sebenernya, sekolah di sekolah Katolik yang ternama.

Claudia paling nggak mau kalau Torey menyinggung soal masa depan bayinya. Dia cuma pengen jadi ibu yang baik buat bayinya. Dia nggak rela kalau harus melepas bayinya. Akhirnya, Claudia sadar kalau dia masih kecil, dan dia maupun bayinya nggak akan punya masa depan kalau dibesarkan sama Claudia. Dengan berhat hati, Claudia akhirnya menyerahkan Jenny (nama bayinya) kepada pasangan tua yang nggak bisa punya anak.

Menurut gue, mending gitu ya kayak Claudia. Dia kan cuma berharap yang terbaik buat anaknya. Anaknya nggak diaborsi atau apa, padahal dia masih kecil.


Eh, kok gue jadi ngomong kayak gini ya? Serem juga sih, haha.

***

Udah dulu yaaa, gue besok masih ada NLP di SMA, padahal Sabtuuuu, huhuh.

Bonsoir, bloggers!

Sunday, February 28, 2010

New Projects!

Bonsoir, bloggers! Postingan kedua malem ini!

Di semester dua ini, sesibuk-sibuknya gue, gue masih nyempetin untuk ngerjain proyek tulis-menulis novel. Terus sekarang ditambah nulis lagu sama skrip drama, jadi yaah, sibuk-sibuk. Aduh, sok sibuk banget deh gue, haha. Tapi emang kenyataan!

Oke, gue punya 5 proyek untuk sekarang. Kalian yang baca koran Pikiran Rakyat pasti tau. Di rubrik 'Prestasi' ada hasil wawancara sama gue tentang 2 proyek gue. Atau, kalo misalnya mau baca sekarang, klik aja di sini.

Sebenarnya ada yang mengalami perubahan, dari ide cerita dirombak abis. Jadi mau gue bahas lagi aja sekarang.

Project #1 : "From My Perspective"

Ceritanya tentang anak gadis, namanya Mala. Mala itu pintar berorasi dan punya rasa keadilan yang tinggi. Waktu masih kelas 6 SD, Mala membantu anak laki-laki yang nggak mau sekolah, namanya Raka. Raka ini ternyata jadi korban child abuse oleh orang-tuanya. Akhirnya setelah diurus lewat jalur hukum oleh ayah-bundanya Mala, Raka pun ikut tinggal di rumah Mala sampai dia besar.

Nah, di novel ini, Mala makin lama makin besar sama Raka. Di setiap usia dan masa pasti ada masalah. Di buku ini, Mala menghadapi berbagai masalah, dari kecil sampai udah gede. Child abuse, bullying, drugs, free-sex, HIV/AIDS, diskriminasi ras, dan sebagainya. Juga nggak lepas dari masalah remaja pada umumnya; cinta pertama, cita-cita, persahabatan.

Novel ini udah sampe bab 9, paling jauh. Tapi gue vakum sebentar karena sibuk.

Project #2 : "Jane Oliver: Eccentric Detective"

Ini novel detektif. Awalnya gue nggak terlalu yakin bisa bikin novel detektif apa enggak. Apalagi yang bikin bingung dan alurnya susah ditebak. Tapi akhirnya, setelah nonton beberapa film dan baca novel-novel referensi, gue bisa mikir cara untuk bikin yang baca ituuu bingung. Yang menginfluensi gue itu buku-bukunya Agatha Christie, Dan Brown, terus film "National Treasure" 1 sama 2, "The Pacifier" (iya gue tau ini film nggak nyambung), terus "The Silence of The Lambs"! Gila itu film rame banget, haha.

Ehem, oke. Cerita gue fokuskan sama gadis New England yang umurnya 19 tahun, namanya Jane Oliver. Dia lulus Harvard di umur 16 tahun. Sekarang dia jadi guru di New England. Terus, anak-anak didiknya itu aneh-aneh. Banyak yang normal, tapi ada 5 orang anak yang aneh.

Ada cowok berusia 16 tahun bernama Riley, pernah terlibat dalam kasus pembunuhan berantai. Cewek 15 tahun, Zoey, yang pernah terlibat kasus sindikat narkoba. Anak kembar fraternal berusia 12 tahun, Jamie dan Jacob, yang diduga melakukan kejahatan kecil-kecilan seperti mencuri di toko dsb, tapi terlibat dalam pembunuhan anak 4 tahun dengan cara diikat ke kaki ranjang dan dibakar. Terakhir, anak temperamental berusia 10 tahun, Sean, yang diduga membunuh 3 orang remaja dengan cara menusuk perut dengan gunting.

Menurut kabar burung (nggak tau burungnya siapa), 5 orang anak didik Jane ini tergabung dalam sindikat yang sama. Tapi jangan khawatir, Jane bakal memecahkan semua kasus dan menyadarkan anak-anak itu. Yeah!

Cerita yang ini baru sampai kasusnya Zoey, belum gue lanjutin lagi. Sekarang, penulis lagi dilematis.

Project #3 : "Seven: First love will always be in your heart, everlasting"

Ini cerita cinta remaja biasa. Selalu ada yang sakit dalam cinta dan persahabatan. Dan, tidak ada kenangan yang melewati otak kita tanpa meninggalkan bekas. Tujuh tahun yang lalu, sekarang dan selamanya.

Dea dan Vega bersahabat sejak kecil. Di hari sebelum mereka lulus SD, Dea dan Vega menyatakan di tempat kenangan mereka, kalau Vega merupakan cinta pertama Dea dan sebaliknya. Setelah lulus, mereka tetep sama-sama, tapi hubungan mereka tetap sahabat, seakan kata cinta pertama nggak berarti apa-apa.

Tujuh tahun kemudian.

Dea dan Vega masih bersahabat. Tapi semuanya berbeda. Vega pacaran sama Fiona, yang kenal sama Dea lebih lama dari Vega, tapi baru kenal Vega 2 tahun lalu. Vega yang makin dewasa dan makin keren pun akhirnya jadi idola cewek-cewek sekolah.

Dea baru putus dari Arkhan, pacarnya, karena sibuknya Arkhan yang mau mengurus studinya ke luar negeri. Dea melampiaskan semuanya dengan bermain musik. Sampai akhirnya dia jatuh cinta lagi pada Mika, pacar Erika –anak baru yang dititipkan guru padanya, yang datang menontonnya saat tampil di pensi.

Vega makin menjauh. Mika pun tidak bisa dibaca. Dea bingung. Ditambah Fiona dan Erika. Lalu ada Filia. Ada Ega. Tujuh tahun yang lalu hampir dilupakan oleh Vega dan Dea. Yang penting adalah sekarang.

Wah, cerita ini complicated banget lah, tapi gue suka. Baru sampai bab 4, belom gue lanjutkan karena plotnya belum selesai satu bukuan.

Project #4 : "The Twins"

Sebenernya, proyek yang ini belom kita tentuin judulnya. Kita? Kenapa "kita"? Karena proyek ini adalah proyek keroyokan gue sama Icut. Icut bakat nulis, gue suka cerita-ceritanya. Akhirnya kita pun memutuskan untuk bikin sebuah novel bareng-bareng.

Cerita ini terfokus pada Zi dan Zia, kembar identik, tapi berbeda sifat.

Zia itu ceria, semangat, keras kepala, pemberani dan tegas. Kesannya tomboi. Sedangkan Zi itu kalem, ramah dan pandai bicara dan bergaul. Sayangnya, semua itu berubah karena kecelakaan mobil yang dialami Zi.

Karena niat menolong seorang ibu, Zi tertabrak mobil. Begitu juga ibu tersebut. Ibu itu meninggal dunia, sedangkan Zi mendapat takdir yang lebih menyakitkan. Tangan-kakinya lumpuh. Tunarungu. Dia kehilangan semuanya. Hanya Zia yang menghiburnya.

Ujian si kembar ditambah dengan tekanan dari ayahnya yang selalu merendahkan Zi, ejekan dari teman-teman di sekolah, dan keterbatasan Zi untuk melakukan rutinitas anak 14 tahun yang normal. Diantara teman-teman sekolahnya, hanya 2 yang mau menemani Zi dan Zia. Mereka adalah Virgo dan Satria.

Virgo tetap berusaha untuk membuat Zi –yang wajahnya selalu tiis, tidak pernah tersenyum, untuk tertawa. Dan Satria selalu jadi sandaran bagi Zia yang terlalu capek untuk menangani semuanya.

Semua tentang perjuangan Zi dan dukungan dari orang-orang tersayangnya untuk mencapai impiannya sebagai anak yang normal.

Plotnya lagi digarap, gue belom nemu waktu lagi untuk dateng ke rumah Icut. Semoga bisa cepet selesai.

Project #5 : "Nadine: Make Your Last Wish Come True"

Ini cerita yang sangat serius gue garap. Kenapa gue pake nama Nadine? Karena gue bener-bener mau menonjol disini. Bukan menonjol dengan maksud "eksis", tapi maksud gue, mau menonjolkan karakter gue sendiri. Gue udah terlalu capek dijudge.

Gue tulis sinopsis yang udah gue tulis di binder gue ya.

"Aku tidak bisa memungkiri ini:
  • Ketergantunganku terhadap sahabat,
  • Bahwa aku terlalu bodoh karena percaya pada merka,
  • Masalah pertemanan dan pergaulan,
  • Bahwa aku bukan apa-apa tanpa mereka,
  • Bahwa aku berteman dengan orang-orang bodoh,
  • Dampak terhadap psikis dan akadesmisku,
  • Kesalahan ada pada AKU.
Orang mungkin berpikir bahwa aku sempurna dan tanpa cacat; karena menurut mereka aku pintar, kaya raya, disukai semua orang, terkenal, pandai bergaul dan BAHAGIA. Tapi itu bohong, mereka SALAH. Aku itu bodoh, lemah, labil, dibenci BANYAK orang, dilabel menyebalkan dan brengsek, dicaci-maki, dipaksa untuk mengalah. Disiksa secara mental. Pendek kata:
–AKU TIDAK BAHAGIA.
Aku capek mengalah, aku capek dibohongi dan dikhianati, aku capek dipaksa, aku capek dengar eprintah, aku capek hidup. Aku mau mati, tapi nggak bisa. Aku belum besar, aku belum banyak amal, aku belum mewujudkan impianku.

Untuk sekarang, aku cuma bisa bertahan dari sahabat-sahabat brengsek, clique cewek-cewek bodoh yang jahat seperti nenek sihir, dan keluarga yang tidak harmonis.

Aku harus tahan."

Cerita ini baru aja gue garap. Mungkin sejak Yubi bilang, "Mendingan lo selesain secara baik-baik deh, cari jalan keluar yang paling baik aja. Setau gue, nggak ada yang benci sama elo kok", gitu. Jadi gue pikir, mendingan gue buktiin aja lewat cerita ini.

***

Well, udah jam 4 pagi sekarang. Setengah jam lagi gue harus mandi dan siap-siap mau ke sekolah, ada pemantapan bagi sih. Iya, gue nggak tidur, bloggers. Penyakit biasa.

Bonsoir :)


Sunday, January 31, 2010

Jealousy

Bonsoir. Gue baru minjem-minjem novel sama neng Biba, alias Bebeh. Gue, Bebeh sama Icut suka baca buku sama novel, jadi kita tuker-tukeran aja, hehehehe. Penerbit favorit kita juga sama, GagasMedia. Tiap bukunya pasti ada huruf 'g' oranye kecil di sudut. Buku terbitannya rame-rame loh.

For further information, visit their website. Click here!

Kemaren-kemaren, gue minjem "Let Go: Setiap Cerita Punya Ruang Sendiri di Dalam Hati..." sama "Refrain: Saat Cinta Selalu Pulang", dua-duanya dari GagasMedia. Kalo "Let Go" itu karangannya Windhy Puspitadewi, kalo "Refrain" itu karya Winna Efendi. Dua-duanya seru abis!

Gue nangis baca dua-duanya, sediiiih. Kisah cinta yang sangat mengharukan!

Walaupun gue nggak punya bukunya, isinya gue ingeeeet banget saking berbekasnya. Gue nangis di bagian-bagian yang mirip-mirip kisah cinta gue, hehehe. Sedih lah, pokoknya.

***

"Jealousy" alias "Iri" atau "Cemburu" itu ada di kedua novel itu.

Buat Caraka di "Let Go", atau Nata sama Anna di "Refrain". Di kedua novel itu, unsur jealousy-nya ada. Kadang-kadang di bagian itu gue langsung berurai air mata, mungkin sampai sesenggukan.

Waktu Caraka nyanyi di pensi ulang taun sekolahnya kan dia teriak "jealousyyyyy!" waktu liat Nadya sama Nathan berdua. Aah pokoknya rame deh.

And, jealousy is exactly my feeling now.

***

Kemaren kita chat. Waktu gue sakit. Kita ngobrol aja berdua, sampe malem. Terus lagi asyik-asyiknya, dia diajak ngobrol sama temen gue yang lain. Anak Tridaya, tapi beda SD sama gue. Chat gue lamaaa dibalesnya. Gue mulai jenuh. Gue bilang "off", terus langsung sign out.

Paginya gue OL lagi. Dia juga, masih main PB. Gue sama sekali nggak niat nyapa dia.

Dia ninggalin offline message, "Bye. Maaf gue jawabnya lama."

So what? Should I care? Gue manyun bacanya. Nothing to do with me.

Ya udah gue langsung off. Males rasanya.

But despite all that, losing him was worst.

***

Eh, gue udah mendingan. Mungkin besok gue bisa masuk sekolah. Tapi kayaknya gue harap gue nggak masuk sekolah besok. Pengen sakit lagi. Nggak tau lah.

Dia sakit. Dari sakit badan kemarin jadi demam. Ketuleran gue kali.

Jadi inget yang "Curhat Buat Sahabat"-nya Dee. Hehehehe.

Sayangnya kamu nggak ada di sini ya. Padahal aku pake gaun hitam lho, ada soda anggur di depan aku. Tapi kamu nggak di sini, nggak nepuk-nepuk bahu aku kayak di sekolah. Nggak bercanda untuk menghibur. Nggak kayak di sekolah.

Tapi kamu sakit.

Besok aku masuk tapi kamu enggak.

***

Udahlah, gue lagi curhat sama si Muti, hehe.

Pesan dari aku buat kamu: "Get well soon, see you tomorrow at school!"

Bonsoir :)

Friday, January 29, 2010

Malaikat Juga Tahu

Bonsoir.

Perasaan saya sering banget ngepost ya?
Yaa, nggak pa-pa lah. Gue kalo di rumah kan nggak ada yang dengerin. Mehehe.
Soalnya hari ini Jumat sih, kalo gue di sekolah kan ada temen-temen yang dengerin.

Gue mau nyanyi *lah? Ya gimana mau nyanyi sih, orang ini blog. Kecuali gue ngerekam suara gue ya? Tapi guenya lagi sakiit, jadi aja serak. Jelek kalo nyanyiii. Ntar jadi aib.

Sudahlah, gue tulis aja lirik lagu yang lagi seneng gue dengerin ya?

***

Dewi Lestari - Malaikat Juga Tahu


Lelahmu jadi lelahku juga
Bahagiamu bahagiaku pasti
Berbagi takdir kita selalu
Kecuali tiap kau jatuh hati

Kali ini hampir habis dayaku
Membuktikan padamu ada cinta yang nyata
Setia hadir setiap hari
Tak tega biarkan kau sendiri
Meski seringkali kau malah asyik sendiri

Karena kau tak lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya

Hampamu tak kan hilang semalam
Oleh pacar impian
Tetapi kesempatan untukku yang mungkin tak sempurna
Tapi siap untuk diuji
Kupercaya diri
Cintaku yang sejati

Namun tak kau lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya

Kau selalu meminta terus kutemani
Engkau selalu bercanda andai wajahku diganti
Relakan ku pergi
Karna tak sanggup sendiri

Namun tak kau lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu

Aku kan jadi juaranya

***

Hehehe.

Ya begitulah. Lagu yang lagi suka gue dengerin tuh 'Malaikat Juga Tahu', mehehe.

Entah kenapa, enak aja denger lagu ini. Kalem, liriknya juga enak, tapi agak maksa. Gue suka Dee, buku-bukunya juga. "Recto Verso", "Perahu Kertas", Trilogi "Supernova" juga. Bagus sih.. Gue paling suka "Perahu Kertas", ada Bandung-nya siiih... *cinta kota kelahiran.

Tapi bukan cuma itu, juga karena tokoh Kugy dan Keenan itu bener-bener.. WOW, gitu. Kugy ajaib, Keenan keajaiban. Begitulah.

***

Plus, gue nyanyi ini... karena gue yakin gue yang menang kalo cinta gue diadu.

Malaikat juga tau itu.

Ya, dia memang nggak lihat, malah mungkin nggak tahu, kalo terkadang malaikat itu nggak bersayap, nggak cemerlang, nggak rupawan. Malaikat juga dikirim untuk kita, dalam bentuk yang berbeda tentunya. Berbeda buat setiap orang.

Gue belum tau siapa malaikat gue, atau gue itu malaikat siapa... tapi, harapan boleh ada kan? Untuk menjadi malaikatnya, dan dia untuk menjadi malaikat gue *ngarep abis. Tapi yah... namanya juga harapan.

Hope is something.

Hope is a wish that you'll give your best effort to make it all come true. And it will.

***

Quick flash.

Hari ini dia senyum lagi :)

Gue lagi minum teh Poci, ngajakin emak pulang. Dia ada di warung sebelah, di tempat teteh nasi goreng. Ya awalnya gue mau langsung pulang aja, nggak bicara apa-apa. Tapi, berhubung emak kenal sama mamahnya dia dan sama dianya, emak gue yang nyapa.

"Eh, ____," gitu. Ya pokoknya namanya disebut.

Senyum aja dia.

Emak gue jalan duluan, terus abis itu memberi isyarat dengan tangan pada gue untuk mengikuti. Akhirnya pas sambil jalan, gue menghadap ke belakang sebentar, diem.

"Hey, ada PR nggak buat Senin?"

"Emmm.. nggak ada," kata dia. Wajahnya masih biasa.

Gue manggut-manggut. Baru mau pamit, dia bilang...

"Eh, ada PR Matik, 138," kata dia. Senyum, matanya netep mata gue.

Gue diem, terus akhirnya sadar kembali setelah ditepuk sama Mang Maman, tukang Martabak Mini. Enak loh *promosi.

Ya abis gue ditepok bahunya, gue langsung,

"Eeeeuh.. Eh! Ya, thanks ya. See you on Monday," terus lari ke emak gue dah, hahaha maluuu.

Tapiii, Mang Maman narik tas gue, terus bilang, "Eh, pacaran aja."

"Iiiih, Mang Maman, mau pulaang..." gue merengek *gahaha.

"Ah, nggak boleh."

Gue langsung nyengir, terus bilang, "Ibu, ibu, aku diculiiiiik..."

Gahahaha, si Mang Maman-nya ketawa, gue juga ikutan. Emak gue geleng-geleng kepala. Ya, gue antara cerdik dan tidak waras emang. Kasian Mang Maman kalo ditimpukin waktu gue bilang gitu. Disangka beneran nyulik entar.

Yaa udah gue dilepas sama Mang Maman.

Pas gue lari ke emak gue, gue menoleh ke dia sedikit lah. Curi-curi pandang.

Dianya ketawa kecil, masih ngeliat ke gue. Hehehehehe.

Aaah, your smile is so unpredictable! Can you please please tell me what it means?!

***

Ya udah pas pulangnya gue malah chat sama dia.

***

Well, nggak banyak yang bisa gue share hari ini. Pulang sekolah jam satu, cuma enam jam sama temen-temen. Biasanya tujuh sampai delapan jam. Aagh, kangen. Nggak bisa ketemu dua hari.

Ya udah.

Bonsoir, everybody.