BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Notifications!

29/04/2010, Thursday.

http://emo.huhiho.com

Semoga kita selalu menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan..

Memoirs

Showing posts with label proses and stories. Show all posts
Showing posts with label proses and stories. Show all posts

Sunday, March 14, 2010

Surat untuk Cinta Pertama

13 Maret, 2010.


Kepada Vega.



Hei. Sebelumnya, aku mau minta maaf sama kamu karena menulis surat ini. Aku tau, waktu membaca kalimat ini saja, alismu pasti sudah berkerut. Aku tau kamu bingung. Tapi aku mohon, jangan remas surat ini dan buang ke pojok kamarmu –seperti yang kamu lakukan pada surat dari cewek-cewek lain. Ya, aku hafal kebiasaanmu itu, karena kamu sering curhat padaku setelah menerima surat-surat itu.

Bisakah kamu lihat tanggal di pojok kanan atas surat ini? Ya, 13 Maret, seminggu setelah ulang tahunmu.

Ingatkah kamu, apa yang kamu lakukan saat ulang tahun kamu?

Pacarmu, Fiona, mengadakan pesta kejutan untukmu. Apakah kamu bersenang-senang? Apakah kamu merasa bahwa itu ulang tahun terindah dalam hidupmu? Apakah kamu bahagia, dan tidak akan melupakan detik-detik itu seumur hidupmu?

Aku harap tidak.

Ya, ini pertama kalinya aku berharap yang buruk-buruk untukmu.

Sebenarnya, Fiona mengundangku ke pesta kejutanmu itu. Tapi aku bilang padanya bahwa aku tidak bisa ikut. Aku bilang aku punya janji dengan Mika. Aku memang tidak bohong, tapi aku baru buat janji setelah ditelepon Fiona. Maaf ya, Ga. Aku tidak datang di ulang tahunmu yang kedelapan belas.

Pukul sepuluh malam, kamu meneleponku. Aku ingat banget apa yang kamu katakan,

"Wah, De! Lo tau nggak? Tadi gue dapet surprise party dari Fiona! Gila nggak sih? Dan gue yakin banget tuh pesta sama kado mahal gila. Yaaa, yang pasti gue super seneng lah, itu gue nggak bisa memungkiri. By the way, kenapa lo nggak dateng?"

Maaf, tapi aku langsung memutuskan telepon darimu. Aku tahu, setengah jam kemudian aku mengirimkan SMS padamu, "Maaf, habis batere," tapi sebenarnya, malam itu aku menangis di bahu Mika. Ya, Mika masih ada di sana saat kamu ngebacot tentang pestamu itu.


Vega, apakah kamu mengerti kalau kata-kata di atas itu –dalam garis pendek, berarti, "Aku mencintaimu, dan aku benci fakta bahwa kamu sudah ada yang punya"?

Aku yakin kamu mengerti. Aku sebagai sahabatmu sejak kecil, sudah mengerti kalau kamu bisa mengerti bahasa cewek lebih baik dari aku yang cewek. Ya, karena kamu sudah terbiasa menghadapi cewek-cewek sekolah kita yang centil-centil, borjuis, biang gosip dan sok sensitif.


Vega, masih ingatkah kamu pada tujuh tahun lalu, di belakang sekolah? Pengakuan polos yang jadi rahasia antara kita berdua? Dan janji-janjimu itu? Aku masih ingat, tentu saja. Aku tidak pernah lupa. Aku menepati semua yang kamu minta, dan semua yang aku janjikan. Tapi, kamu tidak menepati satu janjimu.

"Apapun yang terjadi, kamu tuh, harus berani. Harus bisa. Dan jangan khawatir, aku selalu ada buat dukung kamu dari belakang. Aku selalu jadi ksatria kamu, kayak di film kolosal yang aku nonton! Dan, walaupun kita udah besar dan punya seseorang yang kita sayang, kamu jadi nomor dua setelah dia. Kamu akan aku perlakukan sama seperti dia, walaupun dengan keistimewaan beda-beda. Oke? Janjikan itu sama aku. Karena aku menjanjikan itu sama kamu."

Waktu aku mendengarnya, aku cuma tertawa. Tapi aku yakin, kamu bisa.

Tapi, ternyata Fiona sudah membutakan matamu ya. Aku hampir tidak ada apa-apanya. Kamu membatalkan semua janji kita, cuma buat dia. Itu semua membuat aku benci sama Fiona. Bukan kamu, tapi Fiona.

Apa kamu nggak tau, kalau Fiona pernah melabrakku? Aku cuma sahabat, jawabku. Dia cuma mendengus dan pergi begitu saja. Pacarmu itu keparat, aku benci dia. Hanya karena dia pacaran sama cowok paling ganteng di sekolah.

Tapi aku tidak membencimu yang berpacaran sama dia, aku tidak menyalahkanmu. Sungguh. Aku cuma ingin kamu membuka matamu lebih lebar. Jangan seperti cowok bodoh yang memakai kacamata kuda, atau bagai kerbau yang dicocok hidungnya, Vega. Semangat hidupmu bukan cuma Fiona. Ada aku, anak-anak tim basket juga. Dan masih banyak orang-orang yang sayang sama kamu.

But you bailed on us, only for her.

Semua itu harusnya membuat aku benci kamu. Tapi nggak bisa. Mau sebagaimana menyebalkan pun, aku tidak bisa benci sama kamu.

Maaf.


Vega, aku bakal kuliah di luar negeri. Aku masih akan melanjutkan musikku sampai ke New York. CD-CD favoritmu sudah kumasukkan kardus-kardus cokelat. Avenged Sevenfold, Green Day, Mr Big, The Beatles, Rolling Stone, Paramore, pokoknya semuanya sudah kubawa.

Semua untuk mengingat kamu.

Aku berangkat nanti, 12 Juli. Aku sama Mika, karena dia juga bakal melanjutkan kuliah di universitas yang sama denganku. Well, yang aku bisa bilang, baik-baik sama pacarmu ya. Aku kembali lima tahun lagi, kalau aku baik-baik saja.

Oh! Dan, aku baru menyadari satu hal:

Vega, kamu memang ganteng, tapi kamu tidak sebaik Mika.

Goodbye, First Love, bestfriend forevermore. You may be just passing bye but you'll always leave a mark in my heart.


Rgds, your First Love and bestfriend forevermore,



Deanis Afra A.



[surat ini diletakkan Mika di guitarcase Vega, tanggal 11 Juli 2010.]


Sunday, February 28, 2010

New Projects!

Bonsoir, bloggers! Postingan kedua malem ini!

Di semester dua ini, sesibuk-sibuknya gue, gue masih nyempetin untuk ngerjain proyek tulis-menulis novel. Terus sekarang ditambah nulis lagu sama skrip drama, jadi yaah, sibuk-sibuk. Aduh, sok sibuk banget deh gue, haha. Tapi emang kenyataan!

Oke, gue punya 5 proyek untuk sekarang. Kalian yang baca koran Pikiran Rakyat pasti tau. Di rubrik 'Prestasi' ada hasil wawancara sama gue tentang 2 proyek gue. Atau, kalo misalnya mau baca sekarang, klik aja di sini.

Sebenarnya ada yang mengalami perubahan, dari ide cerita dirombak abis. Jadi mau gue bahas lagi aja sekarang.

Project #1 : "From My Perspective"

Ceritanya tentang anak gadis, namanya Mala. Mala itu pintar berorasi dan punya rasa keadilan yang tinggi. Waktu masih kelas 6 SD, Mala membantu anak laki-laki yang nggak mau sekolah, namanya Raka. Raka ini ternyata jadi korban child abuse oleh orang-tuanya. Akhirnya setelah diurus lewat jalur hukum oleh ayah-bundanya Mala, Raka pun ikut tinggal di rumah Mala sampai dia besar.

Nah, di novel ini, Mala makin lama makin besar sama Raka. Di setiap usia dan masa pasti ada masalah. Di buku ini, Mala menghadapi berbagai masalah, dari kecil sampai udah gede. Child abuse, bullying, drugs, free-sex, HIV/AIDS, diskriminasi ras, dan sebagainya. Juga nggak lepas dari masalah remaja pada umumnya; cinta pertama, cita-cita, persahabatan.

Novel ini udah sampe bab 9, paling jauh. Tapi gue vakum sebentar karena sibuk.

Project #2 : "Jane Oliver: Eccentric Detective"

Ini novel detektif. Awalnya gue nggak terlalu yakin bisa bikin novel detektif apa enggak. Apalagi yang bikin bingung dan alurnya susah ditebak. Tapi akhirnya, setelah nonton beberapa film dan baca novel-novel referensi, gue bisa mikir cara untuk bikin yang baca ituuu bingung. Yang menginfluensi gue itu buku-bukunya Agatha Christie, Dan Brown, terus film "National Treasure" 1 sama 2, "The Pacifier" (iya gue tau ini film nggak nyambung), terus "The Silence of The Lambs"! Gila itu film rame banget, haha.

Ehem, oke. Cerita gue fokuskan sama gadis New England yang umurnya 19 tahun, namanya Jane Oliver. Dia lulus Harvard di umur 16 tahun. Sekarang dia jadi guru di New England. Terus, anak-anak didiknya itu aneh-aneh. Banyak yang normal, tapi ada 5 orang anak yang aneh.

Ada cowok berusia 16 tahun bernama Riley, pernah terlibat dalam kasus pembunuhan berantai. Cewek 15 tahun, Zoey, yang pernah terlibat kasus sindikat narkoba. Anak kembar fraternal berusia 12 tahun, Jamie dan Jacob, yang diduga melakukan kejahatan kecil-kecilan seperti mencuri di toko dsb, tapi terlibat dalam pembunuhan anak 4 tahun dengan cara diikat ke kaki ranjang dan dibakar. Terakhir, anak temperamental berusia 10 tahun, Sean, yang diduga membunuh 3 orang remaja dengan cara menusuk perut dengan gunting.

Menurut kabar burung (nggak tau burungnya siapa), 5 orang anak didik Jane ini tergabung dalam sindikat yang sama. Tapi jangan khawatir, Jane bakal memecahkan semua kasus dan menyadarkan anak-anak itu. Yeah!

Cerita yang ini baru sampai kasusnya Zoey, belum gue lanjutin lagi. Sekarang, penulis lagi dilematis.

Project #3 : "Seven: First love will always be in your heart, everlasting"

Ini cerita cinta remaja biasa. Selalu ada yang sakit dalam cinta dan persahabatan. Dan, tidak ada kenangan yang melewati otak kita tanpa meninggalkan bekas. Tujuh tahun yang lalu, sekarang dan selamanya.

Dea dan Vega bersahabat sejak kecil. Di hari sebelum mereka lulus SD, Dea dan Vega menyatakan di tempat kenangan mereka, kalau Vega merupakan cinta pertama Dea dan sebaliknya. Setelah lulus, mereka tetep sama-sama, tapi hubungan mereka tetap sahabat, seakan kata cinta pertama nggak berarti apa-apa.

Tujuh tahun kemudian.

Dea dan Vega masih bersahabat. Tapi semuanya berbeda. Vega pacaran sama Fiona, yang kenal sama Dea lebih lama dari Vega, tapi baru kenal Vega 2 tahun lalu. Vega yang makin dewasa dan makin keren pun akhirnya jadi idola cewek-cewek sekolah.

Dea baru putus dari Arkhan, pacarnya, karena sibuknya Arkhan yang mau mengurus studinya ke luar negeri. Dea melampiaskan semuanya dengan bermain musik. Sampai akhirnya dia jatuh cinta lagi pada Mika, pacar Erika –anak baru yang dititipkan guru padanya, yang datang menontonnya saat tampil di pensi.

Vega makin menjauh. Mika pun tidak bisa dibaca. Dea bingung. Ditambah Fiona dan Erika. Lalu ada Filia. Ada Ega. Tujuh tahun yang lalu hampir dilupakan oleh Vega dan Dea. Yang penting adalah sekarang.

Wah, cerita ini complicated banget lah, tapi gue suka. Baru sampai bab 4, belom gue lanjutkan karena plotnya belum selesai satu bukuan.

Project #4 : "The Twins"

Sebenernya, proyek yang ini belom kita tentuin judulnya. Kita? Kenapa "kita"? Karena proyek ini adalah proyek keroyokan gue sama Icut. Icut bakat nulis, gue suka cerita-ceritanya. Akhirnya kita pun memutuskan untuk bikin sebuah novel bareng-bareng.

Cerita ini terfokus pada Zi dan Zia, kembar identik, tapi berbeda sifat.

Zia itu ceria, semangat, keras kepala, pemberani dan tegas. Kesannya tomboi. Sedangkan Zi itu kalem, ramah dan pandai bicara dan bergaul. Sayangnya, semua itu berubah karena kecelakaan mobil yang dialami Zi.

Karena niat menolong seorang ibu, Zi tertabrak mobil. Begitu juga ibu tersebut. Ibu itu meninggal dunia, sedangkan Zi mendapat takdir yang lebih menyakitkan. Tangan-kakinya lumpuh. Tunarungu. Dia kehilangan semuanya. Hanya Zia yang menghiburnya.

Ujian si kembar ditambah dengan tekanan dari ayahnya yang selalu merendahkan Zi, ejekan dari teman-teman di sekolah, dan keterbatasan Zi untuk melakukan rutinitas anak 14 tahun yang normal. Diantara teman-teman sekolahnya, hanya 2 yang mau menemani Zi dan Zia. Mereka adalah Virgo dan Satria.

Virgo tetap berusaha untuk membuat Zi –yang wajahnya selalu tiis, tidak pernah tersenyum, untuk tertawa. Dan Satria selalu jadi sandaran bagi Zia yang terlalu capek untuk menangani semuanya.

Semua tentang perjuangan Zi dan dukungan dari orang-orang tersayangnya untuk mencapai impiannya sebagai anak yang normal.

Plotnya lagi digarap, gue belom nemu waktu lagi untuk dateng ke rumah Icut. Semoga bisa cepet selesai.

Project #5 : "Nadine: Make Your Last Wish Come True"

Ini cerita yang sangat serius gue garap. Kenapa gue pake nama Nadine? Karena gue bener-bener mau menonjol disini. Bukan menonjol dengan maksud "eksis", tapi maksud gue, mau menonjolkan karakter gue sendiri. Gue udah terlalu capek dijudge.

Gue tulis sinopsis yang udah gue tulis di binder gue ya.

"Aku tidak bisa memungkiri ini:
  • Ketergantunganku terhadap sahabat,
  • Bahwa aku terlalu bodoh karena percaya pada merka,
  • Masalah pertemanan dan pergaulan,
  • Bahwa aku bukan apa-apa tanpa mereka,
  • Bahwa aku berteman dengan orang-orang bodoh,
  • Dampak terhadap psikis dan akadesmisku,
  • Kesalahan ada pada AKU.
Orang mungkin berpikir bahwa aku sempurna dan tanpa cacat; karena menurut mereka aku pintar, kaya raya, disukai semua orang, terkenal, pandai bergaul dan BAHAGIA. Tapi itu bohong, mereka SALAH. Aku itu bodoh, lemah, labil, dibenci BANYAK orang, dilabel menyebalkan dan brengsek, dicaci-maki, dipaksa untuk mengalah. Disiksa secara mental. Pendek kata:
–AKU TIDAK BAHAGIA.
Aku capek mengalah, aku capek dibohongi dan dikhianati, aku capek dipaksa, aku capek dengar eprintah, aku capek hidup. Aku mau mati, tapi nggak bisa. Aku belum besar, aku belum banyak amal, aku belum mewujudkan impianku.

Untuk sekarang, aku cuma bisa bertahan dari sahabat-sahabat brengsek, clique cewek-cewek bodoh yang jahat seperti nenek sihir, dan keluarga yang tidak harmonis.

Aku harus tahan."

Cerita ini baru aja gue garap. Mungkin sejak Yubi bilang, "Mendingan lo selesain secara baik-baik deh, cari jalan keluar yang paling baik aja. Setau gue, nggak ada yang benci sama elo kok", gitu. Jadi gue pikir, mendingan gue buktiin aja lewat cerita ini.

***

Well, udah jam 4 pagi sekarang. Setengah jam lagi gue harus mandi dan siap-siap mau ke sekolah, ada pemantapan bagi sih. Iya, gue nggak tidur, bloggers. Penyakit biasa.

Bonsoir :)


Sunday, January 31, 2010

Jealousy

Bonsoir. Gue baru minjem-minjem novel sama neng Biba, alias Bebeh. Gue, Bebeh sama Icut suka baca buku sama novel, jadi kita tuker-tukeran aja, hehehehe. Penerbit favorit kita juga sama, GagasMedia. Tiap bukunya pasti ada huruf 'g' oranye kecil di sudut. Buku terbitannya rame-rame loh.

For further information, visit their website. Click here!

Kemaren-kemaren, gue minjem "Let Go: Setiap Cerita Punya Ruang Sendiri di Dalam Hati..." sama "Refrain: Saat Cinta Selalu Pulang", dua-duanya dari GagasMedia. Kalo "Let Go" itu karangannya Windhy Puspitadewi, kalo "Refrain" itu karya Winna Efendi. Dua-duanya seru abis!

Gue nangis baca dua-duanya, sediiiih. Kisah cinta yang sangat mengharukan!

Walaupun gue nggak punya bukunya, isinya gue ingeeeet banget saking berbekasnya. Gue nangis di bagian-bagian yang mirip-mirip kisah cinta gue, hehehe. Sedih lah, pokoknya.

***

"Jealousy" alias "Iri" atau "Cemburu" itu ada di kedua novel itu.

Buat Caraka di "Let Go", atau Nata sama Anna di "Refrain". Di kedua novel itu, unsur jealousy-nya ada. Kadang-kadang di bagian itu gue langsung berurai air mata, mungkin sampai sesenggukan.

Waktu Caraka nyanyi di pensi ulang taun sekolahnya kan dia teriak "jealousyyyyy!" waktu liat Nadya sama Nathan berdua. Aah pokoknya rame deh.

And, jealousy is exactly my feeling now.

***

Kemaren kita chat. Waktu gue sakit. Kita ngobrol aja berdua, sampe malem. Terus lagi asyik-asyiknya, dia diajak ngobrol sama temen gue yang lain. Anak Tridaya, tapi beda SD sama gue. Chat gue lamaaa dibalesnya. Gue mulai jenuh. Gue bilang "off", terus langsung sign out.

Paginya gue OL lagi. Dia juga, masih main PB. Gue sama sekali nggak niat nyapa dia.

Dia ninggalin offline message, "Bye. Maaf gue jawabnya lama."

So what? Should I care? Gue manyun bacanya. Nothing to do with me.

Ya udah gue langsung off. Males rasanya.

But despite all that, losing him was worst.

***

Eh, gue udah mendingan. Mungkin besok gue bisa masuk sekolah. Tapi kayaknya gue harap gue nggak masuk sekolah besok. Pengen sakit lagi. Nggak tau lah.

Dia sakit. Dari sakit badan kemarin jadi demam. Ketuleran gue kali.

Jadi inget yang "Curhat Buat Sahabat"-nya Dee. Hehehehe.

Sayangnya kamu nggak ada di sini ya. Padahal aku pake gaun hitam lho, ada soda anggur di depan aku. Tapi kamu nggak di sini, nggak nepuk-nepuk bahu aku kayak di sekolah. Nggak bercanda untuk menghibur. Nggak kayak di sekolah.

Tapi kamu sakit.

Besok aku masuk tapi kamu enggak.

***

Udahlah, gue lagi curhat sama si Muti, hehe.

Pesan dari aku buat kamu: "Get well soon, see you tomorrow at school!"

Bonsoir :)

Saturday, January 23, 2010

Alasan Kenapa

Dengan meningkatnya tingkat kriminalitas di ibukota dewasa ini, pemerintah Indonesia telah mengirimkan proposal penawaran kerja kepada sejumlah superhero dari negara paman Sam.

Proposal ini menawarkan suatu bentuk kerjasama dimana para superhero diminta kesediaannya untuk bekerja di Indonesia dalam kerjasama dengan Mabes Polri untuk memerangi kriminalitas yang marak terjadi di kota2 besar Indonesia , khususnya Jakarta .

Tetapi tidak diduga sejumlah besar superhero MENOLAK ajakan kerjasama ini.Berikut adalah alasan penolakan tersebut,

1. BATMAN (Bruce Wayne)
Bruce Wayne menolak ajakan kerjasama ini dengan alasan yang terlalu dibuat-buat. Alasan beliau adalah DIA KEBERATAN MENANGGUNG PAJAK IMPOR BAT-MOBILE KE INDONESIA. BAYANGIN AJA PAJAK IMPOR MOBIL MEWAH YANG SELANGIT, APALAGI UNTUK BAT-MOBIL YANG SECANGGIH ITU.

2. SPIDERMAN (Peter Parker)
Parker juga menolak ajakan kerjasama ini dengan alasan DI INDONESIA HANYA ADA SEDIKIT SEKALI GEDUNG TINGGI, YANG MENYULITKAN DIA UNTUK BERGELANTUNGAN DARI GEDUNG KE GEDUNG. KALAUPUN ADA GEDUNG TINGGI, JARAKNYA TERLALU BERJAUHAN, SEHINGGA SANGAT MENYULITKAN. BELUM LAGI SAAT BERGELANTUNGAN, DIA TAKUT KECANTOL KABEL LISTRIK DAN TELEPON YANG BANYAK BERSERAKAN DI LANGIT-LANGIT KOTA BESAR INDONESIA.

3. INVISIBLE GIRL (Susan Storm)
Menolak dengan alasan MINDER. Kemampuan menghilang yang dimilikinya masih jauh kalah dengan kemampuan menghilang orang-orang Indonesia. Berikut wawancara yang dilakukan dengan CNN, "SAYA SIH HANYA BISA MENGHILANGKAN DIRI SAYA SENDIRI. BANYAK ORANG DI INDONESIA YANG BUKAN HANYA BISA MENGHILANGKAN DIRI SENDIRI, MALAHAN HUTANG, ASSET-ASET NEGARA YANG PERNAH DIKUASAI, SAMPAI HUTANG-HUTANG KORUPSI PUN BISA DIHILANGKAN JUGA. JADI SAYA MINDER NIH..."

4. THE THING
Menolak dengan alasan, "DI INDONESIA SUDAH BANYAK ORANG DENGAN KULIT YANG LEBIH TEBAL DARI SAYA. BUKAN HANYA KEBAL PELURU, MALAHAN SUDAH KEBAL MALU SEGALA."

5. HUMAN TORCH (Johnny Storm)
Menolak juga sama dengan anggota-anggota Fantastic 4 yang lain, karena BELUM JUGA MULAI BEKERJA, DIA UDAH MENDAPAT PANGGILAN DARI KEJAGUNG KARENA DICURIGAI MENJADI DALANG TERBAKARNYA BEBERAPA PASAR DI INDONESIA.

6. THE FLASH (Barry Allen)
Sebenarnya Allen sudah mempertimbangkan untuk menerima proposal ini, tetapi setelah melakukan survey ke berbagai lembaga pemerintahan dia akhirnya menolak. "BAYANGKAN AJA, UNTUK MENDAPATKAN TANDA TANGAN KTP AJA ORANG HARUS MENUNGGU BERHARI-HARI. ITU AJA MASIH SABAR. JADI KESIMPULAN SAYA, ORANG INDONESIA TIDAK MEMERLUKAN SEORANG SUPERHERO YANG MEMILIKI KEKUATAN BERUPA KECEPATAN. KECEPATAN TIDAK ADA ARTINYA BUAT BANGSA YANG ALON-ALON ASAL KELAKON."

7. SUPERMAN (Clark Kent )
Sang manusia baja ini menolak dengan sopan, karena, "SAYA TAKUT DISANGKUTKAN DENGAN TUNTUTAN MELAKUKAN AKSI PORNOGRAFI/PORNOAKS I KARENA CELANA DALAM SAYA DI DEPAN."

8. AQUAMAN
Merasa tidak kuat setelah mencoba pekerjaan baru di Indonesia , karena LAUTNYA UDAH TERCEMAR LUMPUR LAPINDO

9. WONDER WOMAN
Pada mulanya, sang peace ambassador dari atlantea ini merasa yakin bisa membantu pemerintah Indonesia. Tetapi setelah pengamatan lebih lanjut, dia akhirnya menolak juga dengan alasan, "KALO SAYA MATI DI US DALAM MENUNAIKAN TUGAS KAN MASIH BERGENGSI, DIBUNUH MONSTER / VILLAIN. DI INDONESIA BISA-BIASA SAYA MATI DIGREBEK FPI GARA-GARA KOSTUM SAYA YANG SUPER SEKSI INI."

10. CAT WOMAN
Menolak setelah ketakutan mendengar lagu KUCING GARONG.

11. HULK (Bruce Banner)
Banner menolak karena JALAN-JALAN DI INDONESIA TERLALU SEMPIT UNTUK UKURAN TUBUHNYA. BELUM LAGI KALO NGEJAR VILLAIN SAMPAI KE GANG-GANG PERUMAHAN, NTAR KENA PORTAL, BELUM LAGI DIMINTAI DUIT CEPE-AN. MAU AMBIL DARI MANA??? "GUE KAN GA PAKE BAJU. BELUM LAGI KALO NYEBRANG JALAN, DISORAKIN DISANGKA SI KOMO."

***

Bahahaha. Gue dapet dari blognya
Meong, alias Fakhri
. Gue kasian sama Cat Woman dah, sumpah... Hahahaha.

Ini cerita tentang masalah Ibukota kita dan kota-kota besar di Indonesia lainnya. Tapi penyampaiannya pake kayak laporan wawancara gitu deh, bahaha. Bagus lah, kreatip!

Bonsoooir :)



Abortion

Bonsoir. Kali ini, gue mau ngebahas tentang 'aborsi'.

Aborsi itu artinya mengakhiri kehamilan manusia secara sadar, alias membunuh bayi secara sadar.

Pelajaran IPA-Biologi kelas VI tentu aja ngebahas tentang sistem reproduksi manusia. Waktu itu Bu Pupu, guru IPA gue, nunjukin perjalanan bayi dari rahim, perkembangannya, sampai akhirnya dia sampai di dekapan ibunya.

Bayi kan lucu, inosen, bersih tanpa dosa, suci! Apa sih salah mereka sampe harus di aborsi segala? Ada juga salah ibu-ayahnya yang contoh; hamil di luar nikah, misalnya. Mereka kan nggak tau apa-apa.

Alat untuk mengaborsi adalah sebuah alat berupa capitan. Dengan alat laknat itu sang janin dikeluarkan paksa dari rahim ibunya. Enggak tajam, memang. Tapi namanya juga bayi –bahkan belum bayi ya, janin! Janin itu nggak berdaya, belum bisa lari kalau ada bahaya mengancam, belum bisa melawan.

Intinya, mereka –bayi-bayi yang diaborsi itu, belom bisa apa-apa. Tiba-tiba mendapati dirinya dipaksa, satu-persatu organ tubuhnya ditarik keluar, tangan kecil, kaki kecil, tubuh kecil, kemudian kepalanya keluar. Eskpresinya yang menahan sakit juga sudah tergambar dengan mulut yang menganga. Tragis memang.

Kita-kita aja yang udah gede, udah hidup, udah capable untuk melakukan beberapa hal sendiri, masih bisa merasakan sakit, takut, menjerit, terluka kalo disakitin.

Gimana bayi-bayi itu?

Yang masih kecil, fragil, lemah, usianya bulanan, bahkan belum diyakini bisa hidup di dunia ini. Di luar. Apa rasanya bagi mereka?

Baca cerita di bawah ya..

***


Month One.


Hi Mommy!
I am only 3/4 of an inch long,
But I have all my organs.
I love the sound of your voice.
Every time I hear it,
I wave my arms and legs.
The sound of your heart beat
Is my favorite lullaby.



Month Two.

Mommy,
Today I learned how to suck my thumb.
If you could see me
You could definitely tell that I am a baby.
I’m not big enough to survive outside my home though.
It is so nice and warm in here.



Month Three.

You know what Mommy,
I’m a boy!
I hope that makes you happy.
I always want you to be happy.
I don’t like it when you cry.
You sound so sad.
It makes me sad too,
And I cry with you even though
You can’t hear me.



Month Four.

Mommy,
My hair is starting to grow.
It is very short and fine
But I will have a lot of it.
I spend a lot of my time exercising.
I can turn my head and curl my fingers and toes
And stretch my arms and legs.
I am becoming quite good at it too.



Month Five.

You went to the doctor today.
Mommy, he lied to you.
He said that I’m not a baby.
I am a baby, Mommy, your baby.
I think and feel.
Mommy, what’s abortion?



Month Six.

I can hear that doctor again.
I don’t like him.
He seems cold and heartless.
Something is intruding my home.
The doctor called it a needle.
Mommy what is it? It burns!
Please make him stop!
I can’t get away from it!
Mommy! Help me!



Month Seven.

Mommy,
I am okay.
I am in Allah’s arms.
Allah is holding me.
Allah told me about abortion.
Why didn’t you want me, Mommy?

Every abortion is just…

One more heart that was stopped.
Two more eyes that will never see.
Two more hands that will never touch.
Two more legs that will never run.
One more mouth that will never speak.

***

Gila emang orang sekarang. Bayi nggak berdosa di aborsi.

Kalo memang nggak diaborsi, merek memberlakukan child abuse. Nggak asoy.

***

Yapp. Kayaknya cukup segitu deh.

Bonsoir :)

Friday, January 22, 2010

The Finish Line

Bonjour.

Eh, gue kemarin liat notes facebook dari si Triani. Judulnya "Kenangan Masa Sedih, Senang, Kita Lalui Bersama .. Sampai Hari Finish Itu Tiba di Depan Mata".

Huaaa... gue sedih bacanya. Si Teri nyeritain jaman-jaman purba, apa aja yang kita lakuin selama dari kelas satu sampe kelas enam di sekolah ini, di DH. Hiks hiks...

Terus, Fafa
juga. Fafa ngetag status ke anak-anak Imbisil. Gini katanya...

"I ♥ Imbisil... Bule, Nadine, Kuwuk, Jambul and Ijal Jeksen... Love you all... Sarap semua! Nggak ada yang waras! Sakit semua lagi! Nggak ada yang bener-bener sehat!"

Bahahaha. Ini gara-gara omongan yang waktu itu toh.

Statusnya Fafa direspon sama Imbisil lainnya. Semua juga menyatakan yang sama, "Sayang sama Imbisil dan bakal kangen sama Imbisil".

Pokoknya gue sedih banget lah.

UASBN bakal jalan Mei nanti, dan kita bakal deg-degan bareng nungguin siapa yang bakal pergi dan tinggal. Tapi keduanya sama aja lah. Kalo gue tinggal yang lain bakal pergi *naudzubilah, dan walaupun kita pergi semuanya, tetep aja pisah-pisah. Hikss...

Ya, sebentar lagi finish line dari kehidupan SD gue kelihatan. Setelah sekian lama berlari dan berlari, perjalanan kita bakal selesai.

Foto-foto gue selama di DH (kelas 4-6, kelas-kelas bawah mah gue masih cupu, bahaha) menuhin tujuh folder full! Snapshots gue atau dari temen-temen. Yang jelas mereka sangat valuable. Bahkan ada foto-foto temen-temen cowok gue yang diambil sama temen cowok gue yang lain waktu mereka nginep. Bahaha.

It's real unappropriate :P

But the point is, I love you guys and I can't spend a day without missing you :)

***

Kemaren, pas hari Jumat, ada pelajaran Bahasa Indonesia.

Pahe ngajarin kita cara baca pidato. Nah, pidato itu kebetulan tentang pidato kelulusan anak kelas VI. Ceritanya, pidato itu dibacakan oleh seorang wakil kelas VI untuk guru, teman-teman dan orang-tua mereka.

Kita diem dan dengerin penjelasan Pahe. Terus Pahe bilang, "Bapak contohin, ya..."

Pahe terus narik kursi guru dari belakang meja ke depan kelas. Beliau *ceilah, duduk, terus membaca.

"... Kini, akhirnya hari kelulusan itu tiba. Setelah enam tahun kami banyak belajar dari Bapak dan Ibu Guru, saya selaku perwakilan teman-teman kelas Vi mengucapkan terima kasih untuk guru-guru kami tercinta. Semua pelajaran dan nasihat yang kamu dapatkan akan selalu kami ingat. Kami juga menyampaikan permintaan maaf atas semua kesalahan dan kenakalan yang pernah kami perbuat selama kami bersekolah di sini. Kenanglah kami semua sebagai siswa-siswi yang pernah Bapak dan Ibu ajar..."

Pahe nangis waktu baca itu.

"Untuk teman-teman yang saya banggakan, semua peristiwa yang kita alami di sekolah ini; senang, sedih, dan bahagia akan selalu mengingatkan kita pada sekolah tercinta ini. Setelah lulus, hendaknya kita selalu terdorong untuk tetap rajin belajar untuk mencapai cita-cita..."

Gue senyum, tapi sedih. Terus gue ngelirik Farah sama Fafa. Terus kita bertiga ngeliat tiga cowok yang duduk di belakang; Firlii, Rizal sama Yubi.

Firlii senyum, tapi matanya enggak. Rizal terpaku, diemmm.. ngeliatin Pahe. Yubi membenamkan wajahnya *idih, ke dalem lipatan tangannya, tapi ngeliat ke luar jendela. Nggak enak rasanya waktu itu.

Sedih.

"... Kami, kelas VI, ingin mengucapkan selamat tinggal pada sekolah kami tercinta. Kami akan selalu mengingat sekolah ini. Sekian, dan terima kasih."

Pidatonya selesai. Pahe ngusap air matanya, terus bilang, "Bapak sedih lho, bacanya."

Temen-temen nyaut, "Bapak kira kita enggak sedih?"

Terus Shafa nangis deh. Dia memang sensitif, tapi menurut gue emang wajar kalo kita nangis setelah denger pidato kayak gitu.

Pulangnya, Fafa ngetag status lagi ke anak-anak Imbisil. Katanya...

"Tadi AbiHe nangis gara-gara mau perpisahan... :'( mana Imbisil cuma Nadine aja yang di swasta... gue di 7... si Bule, Jambul, Ijal sama Kuwuk di SMP 5... :( "

Ah, gila sedih banget.

Eeh, biar gue sama Fafa *mostly-nya Fafa ya, dijulukin "Preman versi Cewek" sama si Jambul, kita kan solider dan penyayang *edan! Kalo gitu plus si Bule :)

Pokoknya kerasa banget sedihnya waktu itu. Hiks hiks hiks...

***

Abis pelajaran Bahasa Indonesia itu, Bu Entin telat masuk karena ada rapat. Jadi first period rada lama.

Gue ngampirin mejanya Yubi, soalnya Imbisil kalo ngobrol emang selalu disitu. Sebabnya? Gampang... Karena Yubi itu mejanya di tengah barisan, jadi itu titik temu antara barisan gue-Farah-Fafa, sama Yubi-Rizal-Firlii.

Gue duduk di atas mejanya Yubi. "Eh, kalian sedih nggak liat Pahe tadi?"

"Jelas sedih!" si Fafa jawab, napsu.

"Santai bel," kata Yubi.

Terus gue noleh ke Firlii. "Eh, Mbul.. Lo kan jeger yah, lo nangis nggak waktu perpisahan nanti?"

Firlii angkat bahu. "Nggak, kayaknya," katanya. "Eh.. tapi kayaknya gue bakal nangis deh."

"Elo, Jal?" gue nanya sama Ijal.

"Iya atuh!" Ijal jawab sambil benerin kacamata.

Eh iya yah, 97% temen-temen gue bilang kalo Rizal itu gantengan pake kacamata. 3% lagi bilang dua-duanya sama aja jelek. Dih, kasian Ijal.

"Elo Yub?"

"Hmmm... iya kali?" si Yubi jawab yakin-nggak-yakin.

"Bule? Bonbin?"

"Ya jelas lah bakal nangis!" Fafa sama Farah teriak bareng-bareng.


Terus dari situ, omongannya melenceng jadi acara wisuda nanti.

"Eh, parah. Entar pas wisudaan kalian harus pake tuxedo," kata gue sambil nunjuk Ijal.

"Bahahahaha! Tuxedo!" si Farah ngakak.

Si Firlii berdiri di samping gue. "Iya, make jas sama kemeja, pake dasi.."

"Ah, elo mah pake dasi kupu-kupu," kata si Fafa sambil nunjuk Firlii.

Firlii mukanya pura-pura kaget dan merasa terhina. "Copo," katanya kemudian.

"Eh, eh, liat, liat..." kata si Rizal.

Konstan kita semua noleh sama dia. Rizal narik celananya ke atas, pura-pura ngebenerin jas khayalannya sama ngencengin dasi kupu-kupu khayalannya, terus berkacak pinggang. Cupu banget gayanya waktu itu. Susah ngebayangin kecuali ngeliat.

"Gyahahahahahahaha!" semuanya pada ketawa.

"Ih, kita lebih parah tau," kata gue. "Pake kebaya."

"Dih," Fafa mendengus.

"Kebaya yang transparan sininya itu?" si Yubi nunjuk lengan.

Gue manggut-manggut.

"Wah, asoy dong," Firlii nyengir.

"Najis lo," kata gue.

"Ah copo. Colek dikit doang..." kata Firlii. "Tapi nggak mau deng sama elo mah."

Gue bergidik. "Ih gila, gue juga nggak mau sama lo, Mbul."

Dih, ini anak beger satu yak, kalo nyebelin, nyebeliiin, kalo baek, baeeek. Nggak jelas.

"Emang anak DH ada yang cantik ya, Fir?" si Yubi nanya.

"Lah? Mantan pacar elo emang nggak cantik? Mantan pacar gue?" si Firlii nanya balik.

Yubi manggut-manggut.

"Ada sih, cuma nggak banyak," kata Firlii.

"Bahaha, Mbul, ntar ada yang cemburu!" kata Fafa.

Firlii melet, terus mukul gue pake sumpit.

"Heuh. Gila."

***

Oh iya, mau tulis-tulis nih...

The Finish Line

Aku sudah berlari jauh, berlari lama.
Rasanya, baru beberapa detik yang lalu aku melangkah dari garis start.
Tapi sekarang, garis finis sudah terlihat.
Sekali aku menembusnya, aku tidak bisa kembali ke awal.
Hanya bisa memulai yang baru.

Bagaimana kalau aku tidak mau yang baru?
Bagaimana kalau aku hanya ingin trek yang ini?
Bagaimana kalau aku hanya ingin awal dan akhir yang sama?

Hanya satu jawabannya.
Aku tidak bisa.

Aku mau mengulang, tapi tidak bisa.

Semua rintangan sudah kulewati di sini, maka tak ada lagi.
Semua penghargaan sudah kudapatkan di sini, maka tak ada lagi.
Semua teman sudah kujadikan keluarga, maka tak ada lagi.
Dan semua musuh sudah kujadikan teman, maka tak ada lagi.

Semua sudah selesai.

Garis finis tinggal sebentar lagi.
Tapi aku tidak menginginkannya.

-fin-

✎ Nadine :)

***

Udah dulu yah. See you at the next post!

Bonjour people :)


Wednesday, January 20, 2010

Hey, Boy

Hey, boy. My special someone.

Yes, I saw you staring at me from your car window.


You were smiling.

Your smile is really unpredictable.

I stared back at you that time...


And I was smiling back at you.

Unconsciously, of course...

Shrugging.


Smiling sheepishly.

Cheeks blushing crimson red...

And I couldn't imagine,

couldn't explain what I was feeling in words.


I couldn't tell.

But I was really happy...

That I smile every second,
since that time!

You can't ever imagine,


how many images and pictures and thoughts of you,

Clouding up my mind.

Hey, boy...


I wanna ask you something.


...


Do you like me?

Do you love me?

Does your stare in class...

ever meant anything?

Does your texts with worrying and cheering notes...


is the result of your feelings?

Anything?

...

Hey, boy...

Just tell me something.

Tell me the truth.


***

Hahaha, ketawa deh gue baca ini.

Ya, ya. Gue lagi seneng bangeeeet karena ada 'dia' ini. Terlalu seneng sampe nggak bisa dijelaskan dengan kata-kata, huahaha.

Pokoknya, gue baru pulang dari bimbel. Nungguin nyokap, lagi beli Hokben di jalan Sunda. Ya udah, gue dengerin musik sambil minum Pop Ice. Yang gue puter waktu itu lagunya Cascada yang "Everytime We Touch", hahaha.

Terus kata nyokap, bentar lagi nyampe. Gue bangkit dari duduk, terus abis itu nyender ke tembok kantin sambil nyedot minuman.

Terus dia menghampiri, "Nadine, PR IPA halaman berapa?"

"116, beeel," gue menjawab. "Jangan lupa dikerjain, sama PR BTAQ."

"Sip," kata dia. "Belom dijemput?"

"Belom lah, bukannya biasanya elo yang pulangnya cepet?"

"Engga, biarin lah supir gue nungguin," jawabnya santai.

"Diiih, edan."

Dia ketawa. Lucu. Terus abis itu yah, supirnya mah nyuruh pulang aja, dianya "He-eh, he-eh" aja terus.

"Pulaang..." dan tanpa basa-basi, dia masuk ke mobil Vios-nya.

Tapiii, luckily, Alif ngampirin dia.

"Eh, --------------", pokoknya gue nggak denger aja, abis kejauhan.

Dia jawab, tapi sambil ngeliatin gue, hehehe.

Si Alif masih ngomong, cuma dia jawabnya masih ngeliat ke gue.

Gue cuma curi-curi pandang haha.

Terus akhirnya gue pun menoleh kayak orang yang di komik-komik gitu, hwahaha. Dianya ngangkat alis sambil senyum penuh selidik. Hahahaha, lucuuuuuu...

Dia emang beken sih, banyak yang naksir (baca: banyak saingaaan). Huhuh.

Ya udah, habis itu mobilnya meluncur ke jalanan, mau muter ke jalan samping *soalnya rumahnya ke jalan lain. Gue keluar aja, terus gue ketemu Alif sama Fanny.

"Eh, Nadine," kata si Fanny.

Ya udah gue jawab, terus kita ngomong aja haha.

Pas mobilnya si Dia lewat, si Alif teriak, "Heeey, _______!" pokoknya mah namanya aja, haha.

Hyaaaa, abis itu sampe pulang gue senyum-senyum sendiri aja kayak orang gila.

Gue seneeeeeeeeeeng! ♥ ♥ ♥

Love you so much, boy :* :* :*

xxx-V :P





















and love is something special :)