BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Notifications!

29/04/2010, Thursday.

http://emo.huhiho.com

Semoga kita selalu menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan..

Memoirs

Showing posts with label My World. Show all posts
Showing posts with label My World. Show all posts

Sunday, March 14, 2010

Surat untuk Cinta Pertama

13 Maret, 2010.


Kepada Vega.



Hei. Sebelumnya, aku mau minta maaf sama kamu karena menulis surat ini. Aku tau, waktu membaca kalimat ini saja, alismu pasti sudah berkerut. Aku tau kamu bingung. Tapi aku mohon, jangan remas surat ini dan buang ke pojok kamarmu –seperti yang kamu lakukan pada surat dari cewek-cewek lain. Ya, aku hafal kebiasaanmu itu, karena kamu sering curhat padaku setelah menerima surat-surat itu.

Bisakah kamu lihat tanggal di pojok kanan atas surat ini? Ya, 13 Maret, seminggu setelah ulang tahunmu.

Ingatkah kamu, apa yang kamu lakukan saat ulang tahun kamu?

Pacarmu, Fiona, mengadakan pesta kejutan untukmu. Apakah kamu bersenang-senang? Apakah kamu merasa bahwa itu ulang tahun terindah dalam hidupmu? Apakah kamu bahagia, dan tidak akan melupakan detik-detik itu seumur hidupmu?

Aku harap tidak.

Ya, ini pertama kalinya aku berharap yang buruk-buruk untukmu.

Sebenarnya, Fiona mengundangku ke pesta kejutanmu itu. Tapi aku bilang padanya bahwa aku tidak bisa ikut. Aku bilang aku punya janji dengan Mika. Aku memang tidak bohong, tapi aku baru buat janji setelah ditelepon Fiona. Maaf ya, Ga. Aku tidak datang di ulang tahunmu yang kedelapan belas.

Pukul sepuluh malam, kamu meneleponku. Aku ingat banget apa yang kamu katakan,

"Wah, De! Lo tau nggak? Tadi gue dapet surprise party dari Fiona! Gila nggak sih? Dan gue yakin banget tuh pesta sama kado mahal gila. Yaaa, yang pasti gue super seneng lah, itu gue nggak bisa memungkiri. By the way, kenapa lo nggak dateng?"

Maaf, tapi aku langsung memutuskan telepon darimu. Aku tahu, setengah jam kemudian aku mengirimkan SMS padamu, "Maaf, habis batere," tapi sebenarnya, malam itu aku menangis di bahu Mika. Ya, Mika masih ada di sana saat kamu ngebacot tentang pestamu itu.


Vega, apakah kamu mengerti kalau kata-kata di atas itu –dalam garis pendek, berarti, "Aku mencintaimu, dan aku benci fakta bahwa kamu sudah ada yang punya"?

Aku yakin kamu mengerti. Aku sebagai sahabatmu sejak kecil, sudah mengerti kalau kamu bisa mengerti bahasa cewek lebih baik dari aku yang cewek. Ya, karena kamu sudah terbiasa menghadapi cewek-cewek sekolah kita yang centil-centil, borjuis, biang gosip dan sok sensitif.


Vega, masih ingatkah kamu pada tujuh tahun lalu, di belakang sekolah? Pengakuan polos yang jadi rahasia antara kita berdua? Dan janji-janjimu itu? Aku masih ingat, tentu saja. Aku tidak pernah lupa. Aku menepati semua yang kamu minta, dan semua yang aku janjikan. Tapi, kamu tidak menepati satu janjimu.

"Apapun yang terjadi, kamu tuh, harus berani. Harus bisa. Dan jangan khawatir, aku selalu ada buat dukung kamu dari belakang. Aku selalu jadi ksatria kamu, kayak di film kolosal yang aku nonton! Dan, walaupun kita udah besar dan punya seseorang yang kita sayang, kamu jadi nomor dua setelah dia. Kamu akan aku perlakukan sama seperti dia, walaupun dengan keistimewaan beda-beda. Oke? Janjikan itu sama aku. Karena aku menjanjikan itu sama kamu."

Waktu aku mendengarnya, aku cuma tertawa. Tapi aku yakin, kamu bisa.

Tapi, ternyata Fiona sudah membutakan matamu ya. Aku hampir tidak ada apa-apanya. Kamu membatalkan semua janji kita, cuma buat dia. Itu semua membuat aku benci sama Fiona. Bukan kamu, tapi Fiona.

Apa kamu nggak tau, kalau Fiona pernah melabrakku? Aku cuma sahabat, jawabku. Dia cuma mendengus dan pergi begitu saja. Pacarmu itu keparat, aku benci dia. Hanya karena dia pacaran sama cowok paling ganteng di sekolah.

Tapi aku tidak membencimu yang berpacaran sama dia, aku tidak menyalahkanmu. Sungguh. Aku cuma ingin kamu membuka matamu lebih lebar. Jangan seperti cowok bodoh yang memakai kacamata kuda, atau bagai kerbau yang dicocok hidungnya, Vega. Semangat hidupmu bukan cuma Fiona. Ada aku, anak-anak tim basket juga. Dan masih banyak orang-orang yang sayang sama kamu.

But you bailed on us, only for her.

Semua itu harusnya membuat aku benci kamu. Tapi nggak bisa. Mau sebagaimana menyebalkan pun, aku tidak bisa benci sama kamu.

Maaf.


Vega, aku bakal kuliah di luar negeri. Aku masih akan melanjutkan musikku sampai ke New York. CD-CD favoritmu sudah kumasukkan kardus-kardus cokelat. Avenged Sevenfold, Green Day, Mr Big, The Beatles, Rolling Stone, Paramore, pokoknya semuanya sudah kubawa.

Semua untuk mengingat kamu.

Aku berangkat nanti, 12 Juli. Aku sama Mika, karena dia juga bakal melanjutkan kuliah di universitas yang sama denganku. Well, yang aku bisa bilang, baik-baik sama pacarmu ya. Aku kembali lima tahun lagi, kalau aku baik-baik saja.

Oh! Dan, aku baru menyadari satu hal:

Vega, kamu memang ganteng, tapi kamu tidak sebaik Mika.

Goodbye, First Love, bestfriend forevermore. You may be just passing bye but you'll always leave a mark in my heart.


Rgds, your First Love and bestfriend forevermore,



Deanis Afra A.



[surat ini diletakkan Mika di guitarcase Vega, tanggal 11 Juli 2010.]


Fearless

Fearless.

Waw, sebuah kata sederhana, tapi kuat kan?

Fearless adalah motto gue. Seperti yang tertulis pada binder gue. Kenapa gue memilih kata "fearless" sebagai motto gue? Ya, karena itu. Kata sederhana, tapi kuat.

Menurut gue, "fearless" yang bahasa Indonesianya "tidak memiliki ketakutan", memang bukan berarti tidak memiliki ketakutan. Menurut gue, fearless itu justru punya banyak ketakutan. Dan mencoba mengatasinya satu-satu.

Fearless itu saat kamu melangkah dengan PD di hari pertama sekolah. Fearless itu saat kamu jatuh cinta lagi walaupun kamu pernah disakiti sebelumnya. Fearless itu saat kamu menjerit kalau kamu merasa sakit. Fearless itu saat kamu berani berkata "selamat tinggal". Fearless itu saat kamu menangis. Fearless itu saat kamu menyukai sahabatmu walaupun dia udah punya pacar.

Which means, elo nggak takut untuk tersakiti.

***

You Belong With Me –Taylor Swift.

You're on the phone with your girlfriend, she's upset
She's going off about something that you said
'Cause she doesn't get your humor like I do

I'm in my room, it's a typical Tuesday night
I'm listening to the kind of music she doesn't like
And she'll never know your story like I do

But she wears short skirts, I wear T-shirts
She's Cheer Captain and I'm on the bleachers
Dreaming 'bout the day when you wake up and find
That what you're looking for has been here the whole time

If you could see that I'm the one who understands you
Been here all along, so why can't you see?
You belong with me, you belong with me

Walking the streets with you and your worn-out jeans
I can't help thinking this is how it ought to be
Laughing on a park bench, thinking to myself
Hey, isn't this easy?

And you've got a smile that could light up this whole town
I haven't seen it in a while since she brought you down
You say you're fine, I know you better than that
Hey, what'cha doing with a girl like that?

She wears high heels, I wear sneakers
She's Cheer Captain and I'm on the bleachers
Dreaming about the day when you wake up and find
That what you're looking for has been here the whole time

If you could see that I'm the one who understands you
Been here all along, so why can't you see?
You belong with me

Standing by and waiting at your back door
All this time how could you not know?
Baby, you belong with me, you belong with me

Oh, I remember you driving to my house in the middle of the night
I'm the one who makes you laugh when you know you're 'bout to cry
And I know your favorite songs and you tell me 'bout your dreams
Think I know where you belong, think I know it's with me

Can't you see that I'm the one who understands you?
Been here all along, so why can't you see?
You belong with me

Standing by and waiting at your back door
All this time, how could you not know?
Baby, you belong with me, you belong with me

You belong with me
Have you ever thought just maybe
You belong with me?
You belong with me

***

So, be fearless.

Bonsoir, bloggers ;)



Friday, February 26, 2010

Love Danger!

Bonsoir, bloggers. Gue baru kembali dari perjalanan jauh (ya nggak jauh-jauh amat sih). Gue barusan balik dari Jakarta, yaaa ada keluarga gue yang meninggal *innalillahiii, dan gue juga sekalian maen sama sepupu-sepupu gue.

Mengingat bahwa gue itu penderita insomnia, gue mau ngalong aje malem ini. Di samping gue, udah ada Nescafe kaleng, air putih, sereal Cookie Crisp sama AIM Cheese Sticks. Anak yang rakus memang, tapi temen ngalong lah, biasa.

Nah, biar ngalong gue nggak sepi, sunyi dan sia-sia, makanya gue mau ngebacot aja di blog sederhana ini, dan juga di twitter sama Plurk. Btw, yang mau follow twitter gue boleh klik di sini, atau di widget yang di sidebar. Atau kalo ada yang mau ngeadd gue di Plurk, klik di sini! Ayo jadi tweedicted dan Plurkers bersama! Hahaha.

Gue mulai ngebacotnya ya...

***

First of all, gue tau, topik 'best friend' sama 'love' emang sering diambil ya, buat dipake curhat nggak langsung. Tapi bacotan gue ini nggak terlalu fokus ke best friend sih, gue fokusnya ke penyebabnya aja, yang baru berdampak pada best friend.

Gue nanya dulu ya.. kalo misalnya jatuh cinta, rasanya gimana?

Ya gitu deh.

"Ya gitu deh" tuh, gimanaaaa?

Yaaaa, gituuu. Jadi gila, posesif, sensitif. Jadi lebay. Jadi selalu berbunga-bunga. Suka over-reacting. Terus..

Ya, gue tau itu. Semua orang memang kalo...

Kalo tau kenapa nanya?

Survey doang. Udahlah, nggak usah motong gue deh *kesel.

Orang jatuh cinta emang gitu, kan. Suka lebay, suka gila, posesif-obsesif-kompulsif, daydreaming, kalo lagi kepengen sesuatu suka muluk-muluk, khayalan tingkat tinggi dan kebanyakan ngarep. Jadi lebih sensitif, haha. Apalagi kalo sama gebetannya ada apa-apa gitu, langsung up-down-up-down-touchtheground-reachthesky-up-down... gitu.

Dan menurut survey gue *ceilah, sepandai-pandainya seseorang menyembunyikan perasaan, dia pasti nggak bisa nyembunyiin perasaan cinta. Seriously.

Mau orang mukanya seserem atau seserius apa kalo misalnya ngeliatin gebetannya, ngelamun atau senyum-senyum sendiri, pasti deh kena gebrak, "Hee! Ngelamun terus lo! Mikirin siapa, niiih?" Ya, kan?

Nah, ini nih yang bikin risih.

Kalo naksir orang yang punya pacar. Itu sangat risih. Apalagi kalo misalnya cowoknya itu temen deket lo sejak kecil (sebut saja dia A), dan ceweknya juga temen deket lo sejak kecil (sebut saja dia B). Mirip sinetron-sinetron dramatis yang kayak di SCTV dan RCTI itu kan? Yang banyak nangis dan sadisme? Yes.

Tapi itu kejadian dia dunia nyata, bloggers. Face it, our lives are nothing but operas. Dramatic, tragic, comic operas.

Nah, berlanjut pada kejadian selanjutnya. Sekarang, baru melibatkan sahabat.

Elo naksir si A yang pacaran sama si B, terus curhat sama sahabat cewek lo yang paling deket sekarang (sebut saja dia C). Elo curhat saat elo sedih, mau menyerah, ragu, seneng, dan apa-apa sama si C ini. Ini semua karena elo percaya sama dia kan? Pastinya. Dan dia juga selalu ngasih dukungan sama elo.

Nah, selain sama si C, lo juga curhat ke temen deket elo yang lain, yang cowok (sebut saja dia D. Btw, gue tau gue nggak kreatif). Nah si D ini juga baik, suka ngasih solusi dan dengerin elo. Terus suka becanda kalo elo curhat yang sedih-sedih.

Tapi sayangnya, si C ini naksir si D! Omagaad. Dan si C yang udah tau kalo elo tuh naksir si A, malah ngegosip tentang elo itu suka berlebihan kalo naksir cowok, nyeritain curhatan elo ke clique (perkumpulan) Cewek-Eksis-Tukang-Gosip-Tapi-Ujian-Kagak-Pernah-Bagus di sekolahan.

Wah, great.

Eeeh, cewek-cewek airhead itu sih, iya-iya aja. "Iya gue juga benci", "Iya bener, ef-u-ce-ka banget lah dia", "A***** banget nggak sih?", dan sebagainya. Terus mereka juga kadang-kadang ngomong –walaupun disensor atau pake sandi-sandian, di jejaring sosial kayak Facebook, status Y!M, Twitter, Plurk, dan sebagainya. Kayak yang udah diberitain di berita-berita, jejaring sosial ini tuh udah nggak aman.

Selain diisi sama ABG-ABG labil dan penasaran, akses ini-itunya juga terlalu mudah. Mau ekspos kek, hack kek, apa juga bisa. Yaa, sebenernya gue menolak RPM Konten-nya Tifa Sembiring juga sih.. cuma kalo ngomongin orang tuh kan rasanya sakit hati banget.

Ya, pokoknya begitu elo tau ternyata banyak orang yang benci lo –nggak tau pada ikut-ikutan si C aja atau emang bener, reaksi lo adalah... shock, pasti. Dan kemudian elo mikir kira-kira perbuatan elo yang mana yang mereka kata-katain. Lo mikir reaksi selanjutnya, dan apa yang harus dilakuin.

Kalo gue jadi elo..? Kira-kira reaksi gue adalah sebagai berikut:

Gue bakal foto semua bukti, gue masukkin HP, gue laporin guru gue, minta mereka dipanggil dan ditindak lanjutin.

Gue sih, nggak peduli selanjutnya mau dibenci apa kagak. Tapi kalo mereka minta maaf, gue yakin cuma atas dasar disuruh guru gue doang. Paling-paling abis dipanggil guru BK, minta maaf, mereka lansgung ngumpat-ngumpat, "Heuh, tukang ngadu. Kita kerjain lebih ekstrim."

Kayak kasus dulu aja.

***

Oh iya, by the way, rasanya gue jadi Plurk-addict deh. Sama seperti tendensi tweeting. Jadi kalian semua boleh add gue di Plurk, atau follow di twitter, biar lebih up-to-date tentang gue, hahahaha.

Plurk : nadindun
twitter : bananadiine

Well, thanks before ya.

Ini gue lagi rame banget Plurking sama si Dila. Ngebahas yang penting-nggakpenting lah, hahaha. Come join our conversation, kay kay?

***

Wah, udah malem nih. Kasian kalian kalo bangun demi mendengarkan bacotan gue, hahaha. Gue juga mau nonton "Mr. and Mrs. Smith" dulu deh ya, hahaha. Mau nonton Brad Pitt sama Angelina Jolie. Abis itu nonton "Inkheart" ah, kangen Fraser gue. Hehehe.

Bonsoir everybody :)

Wednesday, February 10, 2010

Drama

Bonsoir, people. Heey. Long time no post, yeah?

Iyee, kemana aja sih lo, Din?

Iya! Maaf. Hampura. Ampuni aku yang sudah lalai mengupdate blog ini. Gue sedang sibuk dengan latihan-latihan ujian, terus UTS praktek dan latihan UASBN gelombang 2. Jadi karena gue harus memfokuskan otak untuk belajar, waktu ngeblog dan leyeh-leyeh juga hampir nggak ada.

Akhirnya di malam yang sesunyi ini, aku sendiri, tiada yang menemani... Eh, malah nyanyi. Kayak yang suaranya bagus aja. Iya pokoknya di malem ini, gue menyempatkan ngeblog lagi, sekalian blogwalking.

***

Kemaren, hari Selasa, kita terima kabar kalo Farah sakit. Cacar air.
Wah, sekelasan langsung heboh. Ya, kayak orang-orang yang belum pernah merasakan cacar itu nanya sana-sini.

Akhirnya Imbisil pengen jenguk Farah, yang rumahnya deket dari sekolah. Tapi kata Pahe, yang udah pernah cacar aja yang boleh, yang belum pernah, jangan.

Di antara kita berlima, yang udah pernah cacar cuma gue sama Rizal aja. Kebetulan kita berdua yang rumahnya deket sama Farah. Rizal di Ciburial, dan ada rumah nenek gue di perkomplekan yang sama kayak Farah. Makanya gue sering main ke rumah dia.

Ya udah, rencana jenguk-jenguk itu tidak ditindak-lanjuti.

Habis itu ada pelajaran Bahasa Indonesia. Kita lagi ngebahas drama. Akhirnya Pahe nyontohin kita, cara mengimprovisasi sebuah naskah cerpen biasa, jadi sebuah drama. Cerpennya judulnya "Pangeran Puja Kelana".

Pahe jadi si Pangeran. Firlii ditarik jadi pengawalnya. Ceritanya mereka lagi jalan-jalan di pasar. Sebagai pengganti tombak, Firlii bawa gitar sambil ngawal Pahe.

"Pengawal..." si Pahe memulai. "Kamu ini sudah lama mengawal saya."

Si Firlii menjawab, "Iya," aja, tampangnya yang... kalem.

"Sudah berapa lama kamu mengawal saya?"

"Wah, saya tidak tahu," si Firlii jawab, spontan, tiis.

Semuanya pada ketawa.

Pahe menunjuk gitar, "Kenapa kamu bawa gitar?"

"Disuruh," jawab si Firlii kalem lagi. Eeh, semua ketawa lagi.

Terus akhirnya muncul adegan si Rizal membawa pesan dari Baginda Harya Wijaya, ayahnya si Puja Kelana.

"Pangeran," kata si Rizal sambil nunduk. "Saya membawa pesan dari Ramanda Pangeran."

"Lah, siapa kamu?" Pahe menunjuk Ijal bingung, terus menoleh sama Firlii. "Dia siapa, ya? Kayaknya kenal..."

Rizal merasa terlecehkan. "Ih, saya itu pengawal dua, Pangeran! Pengawal dua!"

"Oooooh! Yaya, maaf. Baru inget," Pahe nepuk-nepuk bahu Ijal. "Ngapain ke sini?"

"Saya bawa pesan dari Ramanda Pangeran."

"Oh! Ramanda berpesan!" Pahe berseru. "Oy, penontooon..."

"Ooooy," murid-murid menjawab. Jadi kayak lenong aje.

"Biasanya, Ramanda kalau misalnya nitip pesen, suka ada yang penting-pentingnya deh," kata Pahe. "Iya, biasanya pesen martabaak, gitu atau apaa..."

Pahe mendekati Rizal lagi, "Nggak pesen martabak?"

"Oh, enggak Pangeran," jawab si Rizal. "Paling pesen gehu."

Semua langsung ngakak.

Tau gehu nggak? Tahu yang isinya toge, dan beberapa sayuran lain. Enak loh, apalagi kalo dimakan bareng cengek (cabe ijo). Maknyus.

"Ramanda itu...!" Pahe berseru. "Kalo makan gehu, gehunya cuma satu, cabenyaaa...!"

"Sekilo," celetuk Firlii.

"SEKILO! Bener itu!" Pahe nunjuk-nunjuk Firlii. "Pengawal saya ini, saking lamanya mengabdi sampe hafal."

Firlii nyengir.

"Iya, tho! Gehunya baru dipandang, cabenya? Udah abis dimakan!" seru Pahe lagi. "Karena kebanyakan makan cabe, pantatnya itu serasa panas loh, penonton!"

Semua ngakak lagi.

"Udah sana, beli gehu," perintah Pahe pada Firlii.

"Sip," Firlii mulai melangkah.

"Eeh, ada uangnya nggak?"

"Eh, nggak ada bos!"

Pahe pura-pura mengeluarkan segepok uang dari sakunya, terus abis itu mengambil selembar buat dikasihkan sama Firlii. Si Firlii pura-pura beli ke si Fanny, terus kembali lagi ke Pahe.

"Nih, gehunya, Pangeran!"

"Loh, kok cuma satu?!" Pahe bertanya.

"Yang lain di truk, Pangeran!"

Ngakak lagi.

Wah, pokoknya masih panjang deh. Belum sampe ke bagian penyerahan tahta! Harus liat sendiri biar lucunya lebih kerasa. Aaah, ramenyaaaa...

Terus abis itu kan jam kedua B.I., Pahenya kudu ke kampus, jadi kita kosong selama 45 menit pelajaran. Dan selama itu, Imbisil ngebahas bokep-bokep lagi, sama horor.

"Gue udah nonton trailer film *sensor*, asik loh," kata si Firlii.

"Oh iya, ada adegan itunya ya," kata gue. "Kayaknya rame yah, Fir. Nonton yuk?"

"Hayu."

"Wah, film apa sih?" Yubi nanya.

"*sensor*, kayaknya rame. Nonton yuk aah..." gue ngajakin lagi.

"Wah? Ada yang begituannya kan?" si Yubi nanya Ijal.

"Heueh, Yub. Ngiluan, yuk ah," si Rizal menjawab semangat.

"Gue mah hari Jumat emang udah mau nonton bareng anak-anak Neutron," kata Fafa.

"Eh, tapi yang begituan nggak pake KTP emang?" Yubi nanya.

"Enggak," jawab gue. "Elo kan tinggi, Yub. Ntar elo yang beli tiketnya yah."

"Oke, nggak masalah."

"Tapiiii, bisi nggak boleh ya, mendingan beli DVD-nya terus nonton bareng di rumah," kata Rizal. "Rumah aku mau?"

"Ayooo!" semua semangat.

Ya udah, pembahasan lebih lanjutnya belom. Maafkan kami, kami memang anak-anak tidak sehat. Tapi ini pengaruh pubertas kok, jadi yah.. it's natural.

***

Sudah ya, gue masih ada PR bejibun.
Bonsoir, people :)


Saturday, January 23, 2010

Abortion

Bonsoir. Kali ini, gue mau ngebahas tentang 'aborsi'.

Aborsi itu artinya mengakhiri kehamilan manusia secara sadar, alias membunuh bayi secara sadar.

Pelajaran IPA-Biologi kelas VI tentu aja ngebahas tentang sistem reproduksi manusia. Waktu itu Bu Pupu, guru IPA gue, nunjukin perjalanan bayi dari rahim, perkembangannya, sampai akhirnya dia sampai di dekapan ibunya.

Bayi kan lucu, inosen, bersih tanpa dosa, suci! Apa sih salah mereka sampe harus di aborsi segala? Ada juga salah ibu-ayahnya yang contoh; hamil di luar nikah, misalnya. Mereka kan nggak tau apa-apa.

Alat untuk mengaborsi adalah sebuah alat berupa capitan. Dengan alat laknat itu sang janin dikeluarkan paksa dari rahim ibunya. Enggak tajam, memang. Tapi namanya juga bayi –bahkan belum bayi ya, janin! Janin itu nggak berdaya, belum bisa lari kalau ada bahaya mengancam, belum bisa melawan.

Intinya, mereka –bayi-bayi yang diaborsi itu, belom bisa apa-apa. Tiba-tiba mendapati dirinya dipaksa, satu-persatu organ tubuhnya ditarik keluar, tangan kecil, kaki kecil, tubuh kecil, kemudian kepalanya keluar. Eskpresinya yang menahan sakit juga sudah tergambar dengan mulut yang menganga. Tragis memang.

Kita-kita aja yang udah gede, udah hidup, udah capable untuk melakukan beberapa hal sendiri, masih bisa merasakan sakit, takut, menjerit, terluka kalo disakitin.

Gimana bayi-bayi itu?

Yang masih kecil, fragil, lemah, usianya bulanan, bahkan belum diyakini bisa hidup di dunia ini. Di luar. Apa rasanya bagi mereka?

Baca cerita di bawah ya..

***


Month One.


Hi Mommy!
I am only 3/4 of an inch long,
But I have all my organs.
I love the sound of your voice.
Every time I hear it,
I wave my arms and legs.
The sound of your heart beat
Is my favorite lullaby.



Month Two.

Mommy,
Today I learned how to suck my thumb.
If you could see me
You could definitely tell that I am a baby.
I’m not big enough to survive outside my home though.
It is so nice and warm in here.



Month Three.

You know what Mommy,
I’m a boy!
I hope that makes you happy.
I always want you to be happy.
I don’t like it when you cry.
You sound so sad.
It makes me sad too,
And I cry with you even though
You can’t hear me.



Month Four.

Mommy,
My hair is starting to grow.
It is very short and fine
But I will have a lot of it.
I spend a lot of my time exercising.
I can turn my head and curl my fingers and toes
And stretch my arms and legs.
I am becoming quite good at it too.



Month Five.

You went to the doctor today.
Mommy, he lied to you.
He said that I’m not a baby.
I am a baby, Mommy, your baby.
I think and feel.
Mommy, what’s abortion?



Month Six.

I can hear that doctor again.
I don’t like him.
He seems cold and heartless.
Something is intruding my home.
The doctor called it a needle.
Mommy what is it? It burns!
Please make him stop!
I can’t get away from it!
Mommy! Help me!



Month Seven.

Mommy,
I am okay.
I am in Allah’s arms.
Allah is holding me.
Allah told me about abortion.
Why didn’t you want me, Mommy?

Every abortion is just…

One more heart that was stopped.
Two more eyes that will never see.
Two more hands that will never touch.
Two more legs that will never run.
One more mouth that will never speak.

***

Gila emang orang sekarang. Bayi nggak berdosa di aborsi.

Kalo memang nggak diaborsi, merek memberlakukan child abuse. Nggak asoy.

***

Yapp. Kayaknya cukup segitu deh.

Bonsoir :)

Friday, January 22, 2010

The Finish Line

Bonjour.

Eh, gue kemarin liat notes facebook dari si Triani. Judulnya "Kenangan Masa Sedih, Senang, Kita Lalui Bersama .. Sampai Hari Finish Itu Tiba di Depan Mata".

Huaaa... gue sedih bacanya. Si Teri nyeritain jaman-jaman purba, apa aja yang kita lakuin selama dari kelas satu sampe kelas enam di sekolah ini, di DH. Hiks hiks...

Terus, Fafa
juga. Fafa ngetag status ke anak-anak Imbisil. Gini katanya...

"I ♥ Imbisil... Bule, Nadine, Kuwuk, Jambul and Ijal Jeksen... Love you all... Sarap semua! Nggak ada yang waras! Sakit semua lagi! Nggak ada yang bener-bener sehat!"

Bahahaha. Ini gara-gara omongan yang waktu itu toh.

Statusnya Fafa direspon sama Imbisil lainnya. Semua juga menyatakan yang sama, "Sayang sama Imbisil dan bakal kangen sama Imbisil".

Pokoknya gue sedih banget lah.

UASBN bakal jalan Mei nanti, dan kita bakal deg-degan bareng nungguin siapa yang bakal pergi dan tinggal. Tapi keduanya sama aja lah. Kalo gue tinggal yang lain bakal pergi *naudzubilah, dan walaupun kita pergi semuanya, tetep aja pisah-pisah. Hikss...

Ya, sebentar lagi finish line dari kehidupan SD gue kelihatan. Setelah sekian lama berlari dan berlari, perjalanan kita bakal selesai.

Foto-foto gue selama di DH (kelas 4-6, kelas-kelas bawah mah gue masih cupu, bahaha) menuhin tujuh folder full! Snapshots gue atau dari temen-temen. Yang jelas mereka sangat valuable. Bahkan ada foto-foto temen-temen cowok gue yang diambil sama temen cowok gue yang lain waktu mereka nginep. Bahaha.

It's real unappropriate :P

But the point is, I love you guys and I can't spend a day without missing you :)

***

Kemaren, pas hari Jumat, ada pelajaran Bahasa Indonesia.

Pahe ngajarin kita cara baca pidato. Nah, pidato itu kebetulan tentang pidato kelulusan anak kelas VI. Ceritanya, pidato itu dibacakan oleh seorang wakil kelas VI untuk guru, teman-teman dan orang-tua mereka.

Kita diem dan dengerin penjelasan Pahe. Terus Pahe bilang, "Bapak contohin, ya..."

Pahe terus narik kursi guru dari belakang meja ke depan kelas. Beliau *ceilah, duduk, terus membaca.

"... Kini, akhirnya hari kelulusan itu tiba. Setelah enam tahun kami banyak belajar dari Bapak dan Ibu Guru, saya selaku perwakilan teman-teman kelas Vi mengucapkan terima kasih untuk guru-guru kami tercinta. Semua pelajaran dan nasihat yang kamu dapatkan akan selalu kami ingat. Kami juga menyampaikan permintaan maaf atas semua kesalahan dan kenakalan yang pernah kami perbuat selama kami bersekolah di sini. Kenanglah kami semua sebagai siswa-siswi yang pernah Bapak dan Ibu ajar..."

Pahe nangis waktu baca itu.

"Untuk teman-teman yang saya banggakan, semua peristiwa yang kita alami di sekolah ini; senang, sedih, dan bahagia akan selalu mengingatkan kita pada sekolah tercinta ini. Setelah lulus, hendaknya kita selalu terdorong untuk tetap rajin belajar untuk mencapai cita-cita..."

Gue senyum, tapi sedih. Terus gue ngelirik Farah sama Fafa. Terus kita bertiga ngeliat tiga cowok yang duduk di belakang; Firlii, Rizal sama Yubi.

Firlii senyum, tapi matanya enggak. Rizal terpaku, diemmm.. ngeliatin Pahe. Yubi membenamkan wajahnya *idih, ke dalem lipatan tangannya, tapi ngeliat ke luar jendela. Nggak enak rasanya waktu itu.

Sedih.

"... Kami, kelas VI, ingin mengucapkan selamat tinggal pada sekolah kami tercinta. Kami akan selalu mengingat sekolah ini. Sekian, dan terima kasih."

Pidatonya selesai. Pahe ngusap air matanya, terus bilang, "Bapak sedih lho, bacanya."

Temen-temen nyaut, "Bapak kira kita enggak sedih?"

Terus Shafa nangis deh. Dia memang sensitif, tapi menurut gue emang wajar kalo kita nangis setelah denger pidato kayak gitu.

Pulangnya, Fafa ngetag status lagi ke anak-anak Imbisil. Katanya...

"Tadi AbiHe nangis gara-gara mau perpisahan... :'( mana Imbisil cuma Nadine aja yang di swasta... gue di 7... si Bule, Jambul, Ijal sama Kuwuk di SMP 5... :( "

Ah, gila sedih banget.

Eeh, biar gue sama Fafa *mostly-nya Fafa ya, dijulukin "Preman versi Cewek" sama si Jambul, kita kan solider dan penyayang *edan! Kalo gitu plus si Bule :)

Pokoknya kerasa banget sedihnya waktu itu. Hiks hiks hiks...

***

Abis pelajaran Bahasa Indonesia itu, Bu Entin telat masuk karena ada rapat. Jadi first period rada lama.

Gue ngampirin mejanya Yubi, soalnya Imbisil kalo ngobrol emang selalu disitu. Sebabnya? Gampang... Karena Yubi itu mejanya di tengah barisan, jadi itu titik temu antara barisan gue-Farah-Fafa, sama Yubi-Rizal-Firlii.

Gue duduk di atas mejanya Yubi. "Eh, kalian sedih nggak liat Pahe tadi?"

"Jelas sedih!" si Fafa jawab, napsu.

"Santai bel," kata Yubi.

Terus gue noleh ke Firlii. "Eh, Mbul.. Lo kan jeger yah, lo nangis nggak waktu perpisahan nanti?"

Firlii angkat bahu. "Nggak, kayaknya," katanya. "Eh.. tapi kayaknya gue bakal nangis deh."

"Elo, Jal?" gue nanya sama Ijal.

"Iya atuh!" Ijal jawab sambil benerin kacamata.

Eh iya yah, 97% temen-temen gue bilang kalo Rizal itu gantengan pake kacamata. 3% lagi bilang dua-duanya sama aja jelek. Dih, kasian Ijal.

"Elo Yub?"

"Hmmm... iya kali?" si Yubi jawab yakin-nggak-yakin.

"Bule? Bonbin?"

"Ya jelas lah bakal nangis!" Fafa sama Farah teriak bareng-bareng.


Terus dari situ, omongannya melenceng jadi acara wisuda nanti.

"Eh, parah. Entar pas wisudaan kalian harus pake tuxedo," kata gue sambil nunjuk Ijal.

"Bahahahaha! Tuxedo!" si Farah ngakak.

Si Firlii berdiri di samping gue. "Iya, make jas sama kemeja, pake dasi.."

"Ah, elo mah pake dasi kupu-kupu," kata si Fafa sambil nunjuk Firlii.

Firlii mukanya pura-pura kaget dan merasa terhina. "Copo," katanya kemudian.

"Eh, eh, liat, liat..." kata si Rizal.

Konstan kita semua noleh sama dia. Rizal narik celananya ke atas, pura-pura ngebenerin jas khayalannya sama ngencengin dasi kupu-kupu khayalannya, terus berkacak pinggang. Cupu banget gayanya waktu itu. Susah ngebayangin kecuali ngeliat.

"Gyahahahahahahaha!" semuanya pada ketawa.

"Ih, kita lebih parah tau," kata gue. "Pake kebaya."

"Dih," Fafa mendengus.

"Kebaya yang transparan sininya itu?" si Yubi nunjuk lengan.

Gue manggut-manggut.

"Wah, asoy dong," Firlii nyengir.

"Najis lo," kata gue.

"Ah copo. Colek dikit doang..." kata Firlii. "Tapi nggak mau deng sama elo mah."

Gue bergidik. "Ih gila, gue juga nggak mau sama lo, Mbul."

Dih, ini anak beger satu yak, kalo nyebelin, nyebeliiin, kalo baek, baeeek. Nggak jelas.

"Emang anak DH ada yang cantik ya, Fir?" si Yubi nanya.

"Lah? Mantan pacar elo emang nggak cantik? Mantan pacar gue?" si Firlii nanya balik.

Yubi manggut-manggut.

"Ada sih, cuma nggak banyak," kata Firlii.

"Bahaha, Mbul, ntar ada yang cemburu!" kata Fafa.

Firlii melet, terus mukul gue pake sumpit.

"Heuh. Gila."

***

Oh iya, mau tulis-tulis nih...

The Finish Line

Aku sudah berlari jauh, berlari lama.
Rasanya, baru beberapa detik yang lalu aku melangkah dari garis start.
Tapi sekarang, garis finis sudah terlihat.
Sekali aku menembusnya, aku tidak bisa kembali ke awal.
Hanya bisa memulai yang baru.

Bagaimana kalau aku tidak mau yang baru?
Bagaimana kalau aku hanya ingin trek yang ini?
Bagaimana kalau aku hanya ingin awal dan akhir yang sama?

Hanya satu jawabannya.
Aku tidak bisa.

Aku mau mengulang, tapi tidak bisa.

Semua rintangan sudah kulewati di sini, maka tak ada lagi.
Semua penghargaan sudah kudapatkan di sini, maka tak ada lagi.
Semua teman sudah kujadikan keluarga, maka tak ada lagi.
Dan semua musuh sudah kujadikan teman, maka tak ada lagi.

Semua sudah selesai.

Garis finis tinggal sebentar lagi.
Tapi aku tidak menginginkannya.

-fin-

✎ Nadine :)

***

Udah dulu yah. See you at the next post!

Bonjour people :)


Sunday, January 10, 2010

I Feel Like Dancing (in Romanticism)

Bonjoir, people.

Di rumah gue lagi gelap nih, lagi hujan, angin gede (sampe bunga-bunga di taman gue tumbang semua!), petir menggelegar beruntun.. bikin suntuk, bete, sama takuuuuut. Nervous banget gue, bikin nggak santai aja nih.

Oh iya, diriku ingin bercerita.

Sebenernya ini cerita gue tulis di jurnal gue tadi pagi, jam 02.23 kalo nggak salah, ya. Tapi laptop gue lagi dipake bokap buat ngedit foto pake Photoshop, soalnya laptop-nya si babeh lagi rusak. Ya udah sama gue dipinjemin.

Oke? Kita mulai, yaaa...

***

Insomnia gue nggak sembuh-sembuh. Ternyata Bio-G (merek gelang kesehatan gue) emang nggak efek yah. Uuuuuuggh, duit melayang.

Karena nggak ngantuk, gue nyari kerjaan, daripada terpuruk di kasur nungguin jam lima pagi. Gue pun gambar-gambar komik, baca novel (Thirteenth Tale bagus loh!), sama dengerin musik lewat earphone.

Waktu lagu "Kid"-nya The Pretenders diputer, gue langsung inget alasan gue mendownload lagu ini. Film "17 Again". Yeah, gue tau kalo gue sering ngebahas film ini, tapi yah.. gue emang lagi suka
♥.

Gue keinget adegan waktu Mike/Mark (Zac Efron) dansa sama Scarlett (Leslie Mann) sebelum si Scar itu pergi ngedate sama si Dean, pacar barunya. Diiringin sama lagu "Kid" (acoustic), background-nya taman yang banyak lampu kelap-kelipnya, terus kompakan pake gaun sama kemeja warna hitam, dancing slowly, in romanticism.

Yeah! It's really ROMANTIC! I'm lovin it.

Kalo liat tuh jealous, kayak liat putri sama pangeran dansa di dongeng, kan. Dan gue itu cewek yang sangat, sangat, SANGAT menyukai dunia dongeng (fairytale). Gue bahkan punya julukan Queen, auhaehaehaeha. Di kelas gue bahkan ada King, Maid, Knight, Joker, Prime Minister, Duke and Duchess, Alchemist, daaaan tokoh kerajaan lainnya. I love them, my class *smooch*.

Gue tau, kalo gue itu cewek yang nggak identik sama "romantisme", karena gue itu ke tipe-tipe rebellious-have fun-chat alot-everyone knows you, jadi yah.. gue menganggap romantisme itu... cheesy. Garing. Cenderung lebay.

Tapi sekaraaaang... seperti yang udah gue ceritain di postingan sebelumnya, gue lagi seneng nonton yang cinta-cintaan, dari yang CHEESY sampe yang bikin gue bilang "Aaaaawww... so cute!" dan nyeloteh seterusnya.

So.. gue memasang earphone di telinga, memutar lagu "Collide"-nya Howie Day yang cocok buat lagu dansa slow, berpura-pura menari kesana-kemari, sambil nyanyi.

I'm quiet you know
You make a first impression
I've found I'm scared to know
I'm always on your mind

Even the best fall down sometimes
Even the stars refuse to shine
Out of the back you fall in time
I somehow find you and I collide

Waaaaaaaaaaaaaaaa!

Gue tidak bisa menahan kata-kata, "Aduuuuh.. romantis banget", "Jealous gue sama putri-putri di dongeng", "Kenapa fakta tidak seindah fiksi?! Kenapa dongeng lebih kuat dari realita?!", dan sebagainya.

Sebagai anak kecil, gue berpikir BESAR. Dan gue tidak bermain-main dengan kata "BESAR".

Gue menggunakan imajinasi gue 24 jam sehari. Mata gue bukan mata manusia biasa, mata gue memandang luas dunia gue sendiri. Di dunia gue, terserah gue, apa orang mau pake kolor di kepala, berbicara sama ayam, pokoknya gue suka, dan gue bisa tertawa. Dan kalo sedih, gue bisa menangis. Di dunia gue, gue berekspresi dengan BEBAS seBEBAS-BEBASnya.

Yap. Cukup melantur.

Terus gue menulis kayak begini di jurnal gue:

I Feel Like Dancing

Aku mau berdansa. Aku seperti terhipnotis saat mendengar alunan musik. Kakiku dihentakkan, tanganku menjentikkan jari mengikuti irama. Imajinasi mulai bermain dengan otak, mengirimkan sinyal pada mataku untuk memandang visi di dunia lain.

Seperti hantu yang transparan, aku menonton seorang putri berbalut gaun putih yang mewah, berdansa dengan pangeran berjubah hitam. Dan tidak, dia tidak memakai celana dalam labu seperti di buku dongeng klasik. Wajahnya tampan, he's a real prince charming. Mereka berdansa di lantai dansa yang luas. Megah, dengan lantai marmer dan tiang bersepuh emas.

Aku iri. Kenapa imajinasiku bisa lebih baik dari kenyataanku? Kenapa fiksi bisa lebih kuat dari fakta? Kenapa dongeng ~yang merupakan omong kosong belaka, bisa jauuuuh, jauh lebih menggoda, lebih nikmat dari realita? Realita yang berdasarkan fakta, bukti-bukti konsisten dan kedudukan Tuhan yang permanen? Oh. Hidup tidak adil, memang. Tidak dan tidak akan pernah adil.

Lupakan rasa iri, dan fakta bahwa hidup tidak adil. Aku harus berdansa. I'm gonna make my way by dancing. We have to Dance, Dance to Revolution.

And so... My ears are clogged by my white earphone, playing "Belle of The Boulevard" by The Dashboard Confessionals. Yeah.. Life is always hard, for the Belle of The Boulevard...

And now, because of songs, melodies, and dance steps. I feel like dancing. Dancing my way to REVOLUTION.


Gyahahahaha. Pengen ketawa gue bacanya.

Tapi gue serius lho. Gue harus berdansa menuju revolusi gue. Nice and easy, step-by-step to success, kayak berdansa. Kalo terburu-buru gerakannya bisa melenceng dan hancur, dan kita harus bertahap menguasainya kan? Jadi, let's dance to revolution!