BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Notifications!

29/04/2010, Thursday.

http://emo.huhiho.com

Semoga kita selalu menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan..

Memoirs

Showing posts with label movies. Show all posts
Showing posts with label movies. Show all posts

Tuesday, March 2, 2010

Your Call.. ♫

Bonsoir, bloggers.. Aaah, terjebak insomnia lagi. Ngalong aja deh gue sambil nonton "Ben10" sama "Naruto". Hahaha, film anak kecil. Ah, biarin ah, biarin. Rame tau, haha.

Oh iya, as you can see, template blog gue udah ganti lagi, hehe. Make format .xml sekarang. Gue sengaja pilih yang 3 kolom biar widget gue nanti nggak kebanyakan, hehehe. Well, gue harap template baru ini bisa jadi penyegar mata buat readers gue sekalian ;)

***

Tadi di kelas, pas gue lagi ngerjain Matematika, si Firlii nyanyi lagunya Secondhand Serenade yang "Your Call". Lagunya enak, gue suka. Kayaknya sih si Firlii dikasih tau sama Kemal, soalnya biasanya si Firlii cuma muter Avenged Sevenfold, Green Day, Saosin atau Air Supply. Kadang-kadang Depapepe. Di HP dia atau HP gue, atau HPnya si Yubai.

Oh, ya udah kita semua dengerin. Eh, terus gue, Farah sama Fafa malah cekikikan sendiri. Kata gue (bisik-bisik), "Aduh, telinga gue berdarah, aduh, aduh...", hahaha. Untung aja si Firlii nggak denger. Si Farah bikin gestur ngorek-ngorek telinganya, sementara si Fafa cekikikan aja berdua sama si Yubai, hihi.

Akhirnya, karena udah lama nggak denger lagu ini –dan penasaran juga, gue search aja di YouTube. Pengen tau MV-nya, tapi kayaknya belon ada. Akhirnyaa, gue nemu ini!





Keren banget, hahaha. Bisa aja nemu adegan "Final Fantasy" yang cocok sama nih lagu. Ngomong-ngomong, gue udah lama nggak nonton lagi "Final Fantasy". Terakhir gue nonton, yang "Advent Children". Aduuuh, pengen main yang PS3-nya! Sayangnya gue nggak punya, heheh.

***

Eh, ngomong-ngomong, gue kemaren baru nonton "Ben10: Alien Swarm" ya, dan.. gila, yang jadi Kevin ganteng bangeeeeet. Namanya Nathan Keyes, hehe. Kata gue sih, dia cocok sama Galadriel Stineman, yang main jadi Gwen. Aaaaw.

Ngelantur.

***

Well, kayaknya postingan ini pendek aja deh. Dochay bilang gue kalo posting suka panjang-panjang, haha.

Bonsoir, everybody :)


Sunday, February 28, 2010

New Projects!

Bonsoir, bloggers! Postingan kedua malem ini!

Di semester dua ini, sesibuk-sibuknya gue, gue masih nyempetin untuk ngerjain proyek tulis-menulis novel. Terus sekarang ditambah nulis lagu sama skrip drama, jadi yaah, sibuk-sibuk. Aduh, sok sibuk banget deh gue, haha. Tapi emang kenyataan!

Oke, gue punya 5 proyek untuk sekarang. Kalian yang baca koran Pikiran Rakyat pasti tau. Di rubrik 'Prestasi' ada hasil wawancara sama gue tentang 2 proyek gue. Atau, kalo misalnya mau baca sekarang, klik aja di sini.

Sebenarnya ada yang mengalami perubahan, dari ide cerita dirombak abis. Jadi mau gue bahas lagi aja sekarang.

Project #1 : "From My Perspective"

Ceritanya tentang anak gadis, namanya Mala. Mala itu pintar berorasi dan punya rasa keadilan yang tinggi. Waktu masih kelas 6 SD, Mala membantu anak laki-laki yang nggak mau sekolah, namanya Raka. Raka ini ternyata jadi korban child abuse oleh orang-tuanya. Akhirnya setelah diurus lewat jalur hukum oleh ayah-bundanya Mala, Raka pun ikut tinggal di rumah Mala sampai dia besar.

Nah, di novel ini, Mala makin lama makin besar sama Raka. Di setiap usia dan masa pasti ada masalah. Di buku ini, Mala menghadapi berbagai masalah, dari kecil sampai udah gede. Child abuse, bullying, drugs, free-sex, HIV/AIDS, diskriminasi ras, dan sebagainya. Juga nggak lepas dari masalah remaja pada umumnya; cinta pertama, cita-cita, persahabatan.

Novel ini udah sampe bab 9, paling jauh. Tapi gue vakum sebentar karena sibuk.

Project #2 : "Jane Oliver: Eccentric Detective"

Ini novel detektif. Awalnya gue nggak terlalu yakin bisa bikin novel detektif apa enggak. Apalagi yang bikin bingung dan alurnya susah ditebak. Tapi akhirnya, setelah nonton beberapa film dan baca novel-novel referensi, gue bisa mikir cara untuk bikin yang baca ituuu bingung. Yang menginfluensi gue itu buku-bukunya Agatha Christie, Dan Brown, terus film "National Treasure" 1 sama 2, "The Pacifier" (iya gue tau ini film nggak nyambung), terus "The Silence of The Lambs"! Gila itu film rame banget, haha.

Ehem, oke. Cerita gue fokuskan sama gadis New England yang umurnya 19 tahun, namanya Jane Oliver. Dia lulus Harvard di umur 16 tahun. Sekarang dia jadi guru di New England. Terus, anak-anak didiknya itu aneh-aneh. Banyak yang normal, tapi ada 5 orang anak yang aneh.

Ada cowok berusia 16 tahun bernama Riley, pernah terlibat dalam kasus pembunuhan berantai. Cewek 15 tahun, Zoey, yang pernah terlibat kasus sindikat narkoba. Anak kembar fraternal berusia 12 tahun, Jamie dan Jacob, yang diduga melakukan kejahatan kecil-kecilan seperti mencuri di toko dsb, tapi terlibat dalam pembunuhan anak 4 tahun dengan cara diikat ke kaki ranjang dan dibakar. Terakhir, anak temperamental berusia 10 tahun, Sean, yang diduga membunuh 3 orang remaja dengan cara menusuk perut dengan gunting.

Menurut kabar burung (nggak tau burungnya siapa), 5 orang anak didik Jane ini tergabung dalam sindikat yang sama. Tapi jangan khawatir, Jane bakal memecahkan semua kasus dan menyadarkan anak-anak itu. Yeah!

Cerita yang ini baru sampai kasusnya Zoey, belum gue lanjutin lagi. Sekarang, penulis lagi dilematis.

Project #3 : "Seven: First love will always be in your heart, everlasting"

Ini cerita cinta remaja biasa. Selalu ada yang sakit dalam cinta dan persahabatan. Dan, tidak ada kenangan yang melewati otak kita tanpa meninggalkan bekas. Tujuh tahun yang lalu, sekarang dan selamanya.

Dea dan Vega bersahabat sejak kecil. Di hari sebelum mereka lulus SD, Dea dan Vega menyatakan di tempat kenangan mereka, kalau Vega merupakan cinta pertama Dea dan sebaliknya. Setelah lulus, mereka tetep sama-sama, tapi hubungan mereka tetap sahabat, seakan kata cinta pertama nggak berarti apa-apa.

Tujuh tahun kemudian.

Dea dan Vega masih bersahabat. Tapi semuanya berbeda. Vega pacaran sama Fiona, yang kenal sama Dea lebih lama dari Vega, tapi baru kenal Vega 2 tahun lalu. Vega yang makin dewasa dan makin keren pun akhirnya jadi idola cewek-cewek sekolah.

Dea baru putus dari Arkhan, pacarnya, karena sibuknya Arkhan yang mau mengurus studinya ke luar negeri. Dea melampiaskan semuanya dengan bermain musik. Sampai akhirnya dia jatuh cinta lagi pada Mika, pacar Erika –anak baru yang dititipkan guru padanya, yang datang menontonnya saat tampil di pensi.

Vega makin menjauh. Mika pun tidak bisa dibaca. Dea bingung. Ditambah Fiona dan Erika. Lalu ada Filia. Ada Ega. Tujuh tahun yang lalu hampir dilupakan oleh Vega dan Dea. Yang penting adalah sekarang.

Wah, cerita ini complicated banget lah, tapi gue suka. Baru sampai bab 4, belom gue lanjutkan karena plotnya belum selesai satu bukuan.

Project #4 : "The Twins"

Sebenernya, proyek yang ini belom kita tentuin judulnya. Kita? Kenapa "kita"? Karena proyek ini adalah proyek keroyokan gue sama Icut. Icut bakat nulis, gue suka cerita-ceritanya. Akhirnya kita pun memutuskan untuk bikin sebuah novel bareng-bareng.

Cerita ini terfokus pada Zi dan Zia, kembar identik, tapi berbeda sifat.

Zia itu ceria, semangat, keras kepala, pemberani dan tegas. Kesannya tomboi. Sedangkan Zi itu kalem, ramah dan pandai bicara dan bergaul. Sayangnya, semua itu berubah karena kecelakaan mobil yang dialami Zi.

Karena niat menolong seorang ibu, Zi tertabrak mobil. Begitu juga ibu tersebut. Ibu itu meninggal dunia, sedangkan Zi mendapat takdir yang lebih menyakitkan. Tangan-kakinya lumpuh. Tunarungu. Dia kehilangan semuanya. Hanya Zia yang menghiburnya.

Ujian si kembar ditambah dengan tekanan dari ayahnya yang selalu merendahkan Zi, ejekan dari teman-teman di sekolah, dan keterbatasan Zi untuk melakukan rutinitas anak 14 tahun yang normal. Diantara teman-teman sekolahnya, hanya 2 yang mau menemani Zi dan Zia. Mereka adalah Virgo dan Satria.

Virgo tetap berusaha untuk membuat Zi –yang wajahnya selalu tiis, tidak pernah tersenyum, untuk tertawa. Dan Satria selalu jadi sandaran bagi Zia yang terlalu capek untuk menangani semuanya.

Semua tentang perjuangan Zi dan dukungan dari orang-orang tersayangnya untuk mencapai impiannya sebagai anak yang normal.

Plotnya lagi digarap, gue belom nemu waktu lagi untuk dateng ke rumah Icut. Semoga bisa cepet selesai.

Project #5 : "Nadine: Make Your Last Wish Come True"

Ini cerita yang sangat serius gue garap. Kenapa gue pake nama Nadine? Karena gue bener-bener mau menonjol disini. Bukan menonjol dengan maksud "eksis", tapi maksud gue, mau menonjolkan karakter gue sendiri. Gue udah terlalu capek dijudge.

Gue tulis sinopsis yang udah gue tulis di binder gue ya.

"Aku tidak bisa memungkiri ini:
  • Ketergantunganku terhadap sahabat,
  • Bahwa aku terlalu bodoh karena percaya pada merka,
  • Masalah pertemanan dan pergaulan,
  • Bahwa aku bukan apa-apa tanpa mereka,
  • Bahwa aku berteman dengan orang-orang bodoh,
  • Dampak terhadap psikis dan akadesmisku,
  • Kesalahan ada pada AKU.
Orang mungkin berpikir bahwa aku sempurna dan tanpa cacat; karena menurut mereka aku pintar, kaya raya, disukai semua orang, terkenal, pandai bergaul dan BAHAGIA. Tapi itu bohong, mereka SALAH. Aku itu bodoh, lemah, labil, dibenci BANYAK orang, dilabel menyebalkan dan brengsek, dicaci-maki, dipaksa untuk mengalah. Disiksa secara mental. Pendek kata:
–AKU TIDAK BAHAGIA.
Aku capek mengalah, aku capek dibohongi dan dikhianati, aku capek dipaksa, aku capek dengar eprintah, aku capek hidup. Aku mau mati, tapi nggak bisa. Aku belum besar, aku belum banyak amal, aku belum mewujudkan impianku.

Untuk sekarang, aku cuma bisa bertahan dari sahabat-sahabat brengsek, clique cewek-cewek bodoh yang jahat seperti nenek sihir, dan keluarga yang tidak harmonis.

Aku harus tahan."

Cerita ini baru aja gue garap. Mungkin sejak Yubi bilang, "Mendingan lo selesain secara baik-baik deh, cari jalan keluar yang paling baik aja. Setau gue, nggak ada yang benci sama elo kok", gitu. Jadi gue pikir, mendingan gue buktiin aja lewat cerita ini.

***

Well, udah jam 4 pagi sekarang. Setengah jam lagi gue harus mandi dan siap-siap mau ke sekolah, ada pemantapan bagi sih. Iya, gue nggak tidur, bloggers. Penyakit biasa.

Bonsoir :)


Friday, February 26, 2010

Love Danger!

Bonsoir, bloggers. Gue baru kembali dari perjalanan jauh (ya nggak jauh-jauh amat sih). Gue barusan balik dari Jakarta, yaaa ada keluarga gue yang meninggal *innalillahiii, dan gue juga sekalian maen sama sepupu-sepupu gue.

Mengingat bahwa gue itu penderita insomnia, gue mau ngalong aje malem ini. Di samping gue, udah ada Nescafe kaleng, air putih, sereal Cookie Crisp sama AIM Cheese Sticks. Anak yang rakus memang, tapi temen ngalong lah, biasa.

Nah, biar ngalong gue nggak sepi, sunyi dan sia-sia, makanya gue mau ngebacot aja di blog sederhana ini, dan juga di twitter sama Plurk. Btw, yang mau follow twitter gue boleh klik di sini, atau di widget yang di sidebar. Atau kalo ada yang mau ngeadd gue di Plurk, klik di sini! Ayo jadi tweedicted dan Plurkers bersama! Hahaha.

Gue mulai ngebacotnya ya...

***

First of all, gue tau, topik 'best friend' sama 'love' emang sering diambil ya, buat dipake curhat nggak langsung. Tapi bacotan gue ini nggak terlalu fokus ke best friend sih, gue fokusnya ke penyebabnya aja, yang baru berdampak pada best friend.

Gue nanya dulu ya.. kalo misalnya jatuh cinta, rasanya gimana?

Ya gitu deh.

"Ya gitu deh" tuh, gimanaaaa?

Yaaaa, gituuu. Jadi gila, posesif, sensitif. Jadi lebay. Jadi selalu berbunga-bunga. Suka over-reacting. Terus..

Ya, gue tau itu. Semua orang memang kalo...

Kalo tau kenapa nanya?

Survey doang. Udahlah, nggak usah motong gue deh *kesel.

Orang jatuh cinta emang gitu, kan. Suka lebay, suka gila, posesif-obsesif-kompulsif, daydreaming, kalo lagi kepengen sesuatu suka muluk-muluk, khayalan tingkat tinggi dan kebanyakan ngarep. Jadi lebih sensitif, haha. Apalagi kalo sama gebetannya ada apa-apa gitu, langsung up-down-up-down-touchtheground-reachthesky-up-down... gitu.

Dan menurut survey gue *ceilah, sepandai-pandainya seseorang menyembunyikan perasaan, dia pasti nggak bisa nyembunyiin perasaan cinta. Seriously.

Mau orang mukanya seserem atau seserius apa kalo misalnya ngeliatin gebetannya, ngelamun atau senyum-senyum sendiri, pasti deh kena gebrak, "Hee! Ngelamun terus lo! Mikirin siapa, niiih?" Ya, kan?

Nah, ini nih yang bikin risih.

Kalo naksir orang yang punya pacar. Itu sangat risih. Apalagi kalo misalnya cowoknya itu temen deket lo sejak kecil (sebut saja dia A), dan ceweknya juga temen deket lo sejak kecil (sebut saja dia B). Mirip sinetron-sinetron dramatis yang kayak di SCTV dan RCTI itu kan? Yang banyak nangis dan sadisme? Yes.

Tapi itu kejadian dia dunia nyata, bloggers. Face it, our lives are nothing but operas. Dramatic, tragic, comic operas.

Nah, berlanjut pada kejadian selanjutnya. Sekarang, baru melibatkan sahabat.

Elo naksir si A yang pacaran sama si B, terus curhat sama sahabat cewek lo yang paling deket sekarang (sebut saja dia C). Elo curhat saat elo sedih, mau menyerah, ragu, seneng, dan apa-apa sama si C ini. Ini semua karena elo percaya sama dia kan? Pastinya. Dan dia juga selalu ngasih dukungan sama elo.

Nah, selain sama si C, lo juga curhat ke temen deket elo yang lain, yang cowok (sebut saja dia D. Btw, gue tau gue nggak kreatif). Nah si D ini juga baik, suka ngasih solusi dan dengerin elo. Terus suka becanda kalo elo curhat yang sedih-sedih.

Tapi sayangnya, si C ini naksir si D! Omagaad. Dan si C yang udah tau kalo elo tuh naksir si A, malah ngegosip tentang elo itu suka berlebihan kalo naksir cowok, nyeritain curhatan elo ke clique (perkumpulan) Cewek-Eksis-Tukang-Gosip-Tapi-Ujian-Kagak-Pernah-Bagus di sekolahan.

Wah, great.

Eeeh, cewek-cewek airhead itu sih, iya-iya aja. "Iya gue juga benci", "Iya bener, ef-u-ce-ka banget lah dia", "A***** banget nggak sih?", dan sebagainya. Terus mereka juga kadang-kadang ngomong –walaupun disensor atau pake sandi-sandian, di jejaring sosial kayak Facebook, status Y!M, Twitter, Plurk, dan sebagainya. Kayak yang udah diberitain di berita-berita, jejaring sosial ini tuh udah nggak aman.

Selain diisi sama ABG-ABG labil dan penasaran, akses ini-itunya juga terlalu mudah. Mau ekspos kek, hack kek, apa juga bisa. Yaa, sebenernya gue menolak RPM Konten-nya Tifa Sembiring juga sih.. cuma kalo ngomongin orang tuh kan rasanya sakit hati banget.

Ya, pokoknya begitu elo tau ternyata banyak orang yang benci lo –nggak tau pada ikut-ikutan si C aja atau emang bener, reaksi lo adalah... shock, pasti. Dan kemudian elo mikir kira-kira perbuatan elo yang mana yang mereka kata-katain. Lo mikir reaksi selanjutnya, dan apa yang harus dilakuin.

Kalo gue jadi elo..? Kira-kira reaksi gue adalah sebagai berikut:

Gue bakal foto semua bukti, gue masukkin HP, gue laporin guru gue, minta mereka dipanggil dan ditindak lanjutin.

Gue sih, nggak peduli selanjutnya mau dibenci apa kagak. Tapi kalo mereka minta maaf, gue yakin cuma atas dasar disuruh guru gue doang. Paling-paling abis dipanggil guru BK, minta maaf, mereka lansgung ngumpat-ngumpat, "Heuh, tukang ngadu. Kita kerjain lebih ekstrim."

Kayak kasus dulu aja.

***

Oh iya, by the way, rasanya gue jadi Plurk-addict deh. Sama seperti tendensi tweeting. Jadi kalian semua boleh add gue di Plurk, atau follow di twitter, biar lebih up-to-date tentang gue, hahahaha.

Plurk : nadindun
twitter : bananadiine

Well, thanks before ya.

Ini gue lagi rame banget Plurking sama si Dila. Ngebahas yang penting-nggakpenting lah, hahaha. Come join our conversation, kay kay?

***

Wah, udah malem nih. Kasian kalian kalo bangun demi mendengarkan bacotan gue, hahaha. Gue juga mau nonton "Mr. and Mrs. Smith" dulu deh ya, hahaha. Mau nonton Brad Pitt sama Angelina Jolie. Abis itu nonton "Inkheart" ah, kangen Fraser gue. Hehehe.

Bonsoir everybody :)

Wednesday, February 10, 2010

Drama

Bonsoir, people. Heey. Long time no post, yeah?

Iyee, kemana aja sih lo, Din?

Iya! Maaf. Hampura. Ampuni aku yang sudah lalai mengupdate blog ini. Gue sedang sibuk dengan latihan-latihan ujian, terus UTS praktek dan latihan UASBN gelombang 2. Jadi karena gue harus memfokuskan otak untuk belajar, waktu ngeblog dan leyeh-leyeh juga hampir nggak ada.

Akhirnya di malam yang sesunyi ini, aku sendiri, tiada yang menemani... Eh, malah nyanyi. Kayak yang suaranya bagus aja. Iya pokoknya di malem ini, gue menyempatkan ngeblog lagi, sekalian blogwalking.

***

Kemaren, hari Selasa, kita terima kabar kalo Farah sakit. Cacar air.
Wah, sekelasan langsung heboh. Ya, kayak orang-orang yang belum pernah merasakan cacar itu nanya sana-sini.

Akhirnya Imbisil pengen jenguk Farah, yang rumahnya deket dari sekolah. Tapi kata Pahe, yang udah pernah cacar aja yang boleh, yang belum pernah, jangan.

Di antara kita berlima, yang udah pernah cacar cuma gue sama Rizal aja. Kebetulan kita berdua yang rumahnya deket sama Farah. Rizal di Ciburial, dan ada rumah nenek gue di perkomplekan yang sama kayak Farah. Makanya gue sering main ke rumah dia.

Ya udah, rencana jenguk-jenguk itu tidak ditindak-lanjuti.

Habis itu ada pelajaran Bahasa Indonesia. Kita lagi ngebahas drama. Akhirnya Pahe nyontohin kita, cara mengimprovisasi sebuah naskah cerpen biasa, jadi sebuah drama. Cerpennya judulnya "Pangeran Puja Kelana".

Pahe jadi si Pangeran. Firlii ditarik jadi pengawalnya. Ceritanya mereka lagi jalan-jalan di pasar. Sebagai pengganti tombak, Firlii bawa gitar sambil ngawal Pahe.

"Pengawal..." si Pahe memulai. "Kamu ini sudah lama mengawal saya."

Si Firlii menjawab, "Iya," aja, tampangnya yang... kalem.

"Sudah berapa lama kamu mengawal saya?"

"Wah, saya tidak tahu," si Firlii jawab, spontan, tiis.

Semuanya pada ketawa.

Pahe menunjuk gitar, "Kenapa kamu bawa gitar?"

"Disuruh," jawab si Firlii kalem lagi. Eeh, semua ketawa lagi.

Terus akhirnya muncul adegan si Rizal membawa pesan dari Baginda Harya Wijaya, ayahnya si Puja Kelana.

"Pangeran," kata si Rizal sambil nunduk. "Saya membawa pesan dari Ramanda Pangeran."

"Lah, siapa kamu?" Pahe menunjuk Ijal bingung, terus menoleh sama Firlii. "Dia siapa, ya? Kayaknya kenal..."

Rizal merasa terlecehkan. "Ih, saya itu pengawal dua, Pangeran! Pengawal dua!"

"Oooooh! Yaya, maaf. Baru inget," Pahe nepuk-nepuk bahu Ijal. "Ngapain ke sini?"

"Saya bawa pesan dari Ramanda Pangeran."

"Oh! Ramanda berpesan!" Pahe berseru. "Oy, penontooon..."

"Ooooy," murid-murid menjawab. Jadi kayak lenong aje.

"Biasanya, Ramanda kalau misalnya nitip pesen, suka ada yang penting-pentingnya deh," kata Pahe. "Iya, biasanya pesen martabaak, gitu atau apaa..."

Pahe mendekati Rizal lagi, "Nggak pesen martabak?"

"Oh, enggak Pangeran," jawab si Rizal. "Paling pesen gehu."

Semua langsung ngakak.

Tau gehu nggak? Tahu yang isinya toge, dan beberapa sayuran lain. Enak loh, apalagi kalo dimakan bareng cengek (cabe ijo). Maknyus.

"Ramanda itu...!" Pahe berseru. "Kalo makan gehu, gehunya cuma satu, cabenyaaa...!"

"Sekilo," celetuk Firlii.

"SEKILO! Bener itu!" Pahe nunjuk-nunjuk Firlii. "Pengawal saya ini, saking lamanya mengabdi sampe hafal."

Firlii nyengir.

"Iya, tho! Gehunya baru dipandang, cabenya? Udah abis dimakan!" seru Pahe lagi. "Karena kebanyakan makan cabe, pantatnya itu serasa panas loh, penonton!"

Semua ngakak lagi.

"Udah sana, beli gehu," perintah Pahe pada Firlii.

"Sip," Firlii mulai melangkah.

"Eeh, ada uangnya nggak?"

"Eh, nggak ada bos!"

Pahe pura-pura mengeluarkan segepok uang dari sakunya, terus abis itu mengambil selembar buat dikasihkan sama Firlii. Si Firlii pura-pura beli ke si Fanny, terus kembali lagi ke Pahe.

"Nih, gehunya, Pangeran!"

"Loh, kok cuma satu?!" Pahe bertanya.

"Yang lain di truk, Pangeran!"

Ngakak lagi.

Wah, pokoknya masih panjang deh. Belum sampe ke bagian penyerahan tahta! Harus liat sendiri biar lucunya lebih kerasa. Aaah, ramenyaaaa...

Terus abis itu kan jam kedua B.I., Pahenya kudu ke kampus, jadi kita kosong selama 45 menit pelajaran. Dan selama itu, Imbisil ngebahas bokep-bokep lagi, sama horor.

"Gue udah nonton trailer film *sensor*, asik loh," kata si Firlii.

"Oh iya, ada adegan itunya ya," kata gue. "Kayaknya rame yah, Fir. Nonton yuk?"

"Hayu."

"Wah, film apa sih?" Yubi nanya.

"*sensor*, kayaknya rame. Nonton yuk aah..." gue ngajakin lagi.

"Wah? Ada yang begituannya kan?" si Yubi nanya Ijal.

"Heueh, Yub. Ngiluan, yuk ah," si Rizal menjawab semangat.

"Gue mah hari Jumat emang udah mau nonton bareng anak-anak Neutron," kata Fafa.

"Eh, tapi yang begituan nggak pake KTP emang?" Yubi nanya.

"Enggak," jawab gue. "Elo kan tinggi, Yub. Ntar elo yang beli tiketnya yah."

"Oke, nggak masalah."

"Tapiiii, bisi nggak boleh ya, mendingan beli DVD-nya terus nonton bareng di rumah," kata Rizal. "Rumah aku mau?"

"Ayooo!" semua semangat.

Ya udah, pembahasan lebih lanjutnya belom. Maafkan kami, kami memang anak-anak tidak sehat. Tapi ini pengaruh pubertas kok, jadi yah.. it's natural.

***

Sudah ya, gue masih ada PR bejibun.
Bonsoir, people :)


Wednesday, January 6, 2010

Love Movies, Cinemas, and Reality

Bonsoir, amis.

Gue lagi sebel. Sangat sebel. Benar-benar sebel.

***

Belakangan, gue sangat kecanduan nonton DVD. Dan selain DVD horor, komedi, dsb yang gue kasih liat di post sebelumnya, gue pun kecanduan nonton film cinta-cintaan, dari yang romantis semua sampe yang seling komedi *punya emak sama babeh gue (jaman jebot) :P

Semua genre movie sebenernya gue tangkringin. Asal ceritanya seru aja. Kayak "Devil Wears Prada" gitu, gue suka lho, ahahahaha. Soalnya rame, gue suka pas si Andrea (Anne Hathaway) jadi stylish gitu kan keren.

Eh.. gue jadi ngelantur. Ayo kembali.

Yup. So, gue nangkringin beberapa film romantis jaman baheula, ada yang gue tonton di DVD, ada juga yang di HBO atau StarMovies. Di lemari DVD, gue nemu beberapa film cinta, di antaranya:

  • Drew Barrymore's "Never Been Kissed"
  • Jennifer Lopez's "The Wedding Planner"
  • Renee Zellweger's "Bridget Jones' Diary"
  • Anne Hathaway's "Princess Diaries 2: The Royal Engagement"
  • Leonardo DiCaprio's "Titanic"
  • Adam Sandler's "50 First Dates"
  • Disney Pixar's "Wall-E"
  • Katherin Heigl's "27 Dresses"
  • et cetera..
Yah, jelasnya masih banyak film yang gue temuin di situ. Dari yang tahun 1990-an lah gue nemu. Terus ada yang soundtrack-nya enak-enak, jadi gue download. Yah, gue tuh maniak banget sama film dan musik.

Sekarang gue rada males nonton film Indonesia. Yang bikin gue males tuh, bagian pornografinya. Sekarang kan udah ada undang-undang tentang pornografi, tapi masih aja para penulis naskah dan sutradara tuh, meng-approve begitu saja film tersebut. Duiiiit doang incerannya. Soalnya emang sekarang orang doyan yang bokep-bokep sih.

Lagian, sebenernya kan film itu udah di-rating. Di luar negeri ada:
  • "G" / General Audiences : Semua Umur
  • "PG" / "Parental Guidance" : Bimbingan Orang tua
  • "PG13" / "Parental Guidance for Under 13" : BO untuk anak di bawah 13 tahun
  • "R" / "Restricted" : BO untuk anak di bawah 17 tahun
  • "NC-17" : 17 tahun ke atas
Sumber: Wikipedia

Yap, nggak kayak kita di Indonesia, di luar negeri aturan kayak gini berlaku. Sekarang, kalo gue surfing di Internet, gue suka menemukan shortcut untuk situs-situs yang menyediakan video porno, baik yang real, atau yang animasi. Gilaks. Dan gue menemukan situs yang menyediakan semua itu tadi, tapi kita harus membayar, 10.000 USD untuk makan semua itu. Najis banget.

Emang sekarang orang doyan yang bokep-bokep sih, ya. Si Rizal juga, seriiiing banget dia ngomongin Maria Ozawa, ngomong yang bokep-bokep lah, Rizal mah. Ngomong "Sexy Teachers", ughh.. cowok sarap. Jarang banget orang ngomong mau nonton film "Emak Ingin Naik Haji".

Gue salut sama script-writer sama sutradara yang bisa bikin film bagus dan laris tanpa ada bokep-bokepnya sedikitpun. Mau ngomong kek, gesture kek, pokoknya nggak ada satupun detil bokep-bokep.

Ya, emang seiring globalisasi, walaupun nggak nonton di bioskop, download film di internet *gue juga melakukannya, atau beli bajakan aja.

Gue bener-bener nggak ngerti, gimana caranya black market DVD mendapatakan video untuk disc-nya, padahal film itu belum keluar di bioskop. Kayak nyokap gue, beli "Alvin and The Chipmunks 2: The Squeakquel", itu kayaknya video hasil rekaman, karena kameranya goyang, banyak suara orang awam, dan nggak selesai sampe akhir. Dan akhirnya gue nonton juga di bioskop.

Terlepas dari rating, sebenernya film-film Indonesia tuh melanggar UU pornografi juga sih. Gue baca-baca buku diktat dan kuliah emak gue jaman baheula, dan yah menemukan sejumput ilmu dari sana. Terus gue baca-baca lagi Wiki, koran dan nonton berita.

And, I decide, not to watch X-rated (NC-17) movies. Karena gue juga sebentar lagi 13 tahun, jadi gue tidak perlu khawatir dengan PG13 movies. Bahahaha.

Gue mau nonton film "Slum Dog Millionaire" aja ah, gue belum sempet nonton. Hehehehe. Oh, gue suka soundtracknya, "Jai Ho (You Are My Destiny)" by The Pussycat Dolls feat Ar Rahman. I'm lovin it *McD.

***

Oh, iya. Tadi di awal post gue bilang gue lagi kesel, kan?

Ya, gue sangaaaaaaat kesal. Karena gue udah deg-degan menunggu seseorang, dan dia nggak nepatin janjinya. Bete.

Dan... tidak, dia bukan pacar gue.

Well, that's all I guess.

Jusqu'à la prochaine réunion par écrit! Bonsoir, amis!

Hotel 626

Bonsoir, amis.

Ini Nadine, sedang tiduran di kasur sambil baca buku. Yeah, saya memang kutu buku. Diriku mau bercerita yah. Dengarkan baik-baik.

10.51 PM - Monday, January 4th 2010.

Tiba-tiba Bona ngirim Instant Message (IM, chat) dari Y!M.

"Dyr, mainan hantu online yang lo tau apa aja?"

Gue jawab: "The House sama Hotel 626."

Bona bilang, dia mau "check in" ke Hotel 626. Sekalian ngebantuin, gue ikut check in sekalian. Yaaaah, kan lumayan setali tiga uang. Eh, dua uang.

Setelah ngereset jam ke jam setengah satu malem (Hotel 626 buka dari jam 12 malem sampe jam 6 pagi), gue masang mic, headphone sama meriksa webcam. Semua siap, gue klik "submit", dan muncullah sebuah koridor hotel di depan gue.

Pas gue lagi takut-takutnya ngeliat koridor itu, gue pause si 626 dan meriksa Y!M. Si Hasya juga pasang status "Gilaaa, ya oloh gue masuk 626!". Gue langsung ngirim IM ke dia:

"Sya! Main 626 juga kamu?"

"Iya."

Wow, ternyata benar-benar setali tiga uang.

Gue berusaha melupakan rasa takut gue, dan meneruskan permainan. Pas gue klik "back", di depan gue ada clue yang berkata "She lived in the dark. Show her the light". Dan beberapa saat setelah itu, muncul ruangan gelap, dan kamera dengan sembilan film di depan gue.

Yang terlintas di pikiran gue adalah: Wah... kok, kayak Fatal Frame 2 ya?

Iya tauk! Mirip Fatal Frame 2: Crimson Butterfly, yang ada kamera buat nangkep hantu.

Selama menatap ruangan gelap, gue sering liat cahaya putih kecil bolak-balik, ya udah gue foto.

JEPRET!!!

Muncul seorang cewek pucet, pirang, berpakaian ala maid *gue mengasumsikan dia cleaning service di hotel, lagi lari. Hiiiiiii... serem gue. Abis dapet 4 jepretan, gue ngambil jepretan terakhir untuk lulus. JEPRET! Si pelayan setan itu ada di depan kamera gue, mangap, memamerkan gigi t-rex indahnya. Waaa!

Gue langsung curhat sama si
Bona, "Faaaaaaaa! Hantu pelayannya sereeeem!!!"

Bona: "Huaaaa... Iya nih, gue juga ketakutan, lagi ngadepin orang gila!"

Gue: "Emang ada, Bon?"

Bona: "Ada! Siap-siap aja deh, seremm.. Hiiii..."

Gue menelan ludah, kemudian melanjutkan permainan. Menyusuri koridor, terus clue muncul lagi, "Sing me a lullaby...". Oh God.

Shitty-shitty bang-bang.

Wah... gawat. Gue apal banget clue ini. Kakak sepupu gue pernah cerita. Ini saatnya kita menyanyikan lagu "Nina Bobo" untuk seorang bayi setan. Kalau gagal, kita bisa dimakan! Temen kakak gue nyanyi seperti ini:

"MINUM SUSU! MINUM SUSU! LAGEEEEEEEEEEEE...!"
(dulu lagu ini populer sebagai soundtrack iklan "Tarzan Cilik" *gue gahol)

Sambil teriak-teriak pula. Nggak heran langsung dimakan.

Gue pun nyanyi "Rockabye Baby" biar tidur aja si bayi. Tapi si
Bona udah bilang, "Dyr! Gilaaaa... yang bayi serem banget! Gue nggak bisa!"

Karena gue udah takut akan reaksi si bayi, apalagi dia udah gresek-gresek terganggu tidurnya. Gue diemin aja, sambil berpaling ke TV yang lagi nyetel "Inkheart"-nya Brandon Fraser, nungguin sampe gue kalah *yap, gue memang cemen. Lagian, kasian si baby gue nyanyiin pake suara sumbang gue.

Saat gue berpaling kembali, ada pilihan "Try again?" atau "Skip?". Langsung otak culas gue memilih untuk di-skip sajalah. Yang lalu biar berlalu.

Eeeh, taunya gue masih harus keluar dari kamar si baby dengan menyeimbangkan langkah! Aw! Setelah gagal sekian kali, gue akhirnya lulus! Dan kabur dengan bahagia.

Yaaa... gue pun akhirnya nyampe level orang gila yang dibilang si
Bona. Iya juga sih, sereeem. Mirip Sirius Black. Gue menghitung gambar-gambar di dinding ruang isolasi, terus gue masukkin jumlahnya ke mesin password.

Terus gue kabur deh, ngangkat telepon setan. Gue disuruh lari sepanjang koridor hotel. Eeeeeh, tiba-tiba gue mati. Gue skip lagi.

Ya, otak gue memang culas.

Habis itu, ada foto-foto yang digantung. Gue harus milih salah satu untuk jalan keluar. Ya udah, gue pilih bule yang paling ganteng. Dasar gue.

Yap. Dengan sukses gue tidak berhasil keluar. Saat gue skip, muncul tangga darurat. Gue telusuriiiii... gelap-gelap dengan dinding batu yang ada bercak-bercak merah darah, uuuuhuhu :( Gagap sendiri gue lewatnya.

Dan, AKHIRNYA! Gue sampe mobil. Cepet-cepet masuk dan nyalain mesin. Gue mau mundur, dan kemudian gue benerin kaca spion depan, dan melihat...

JENG! JENG! NGIK! JENG! NGIK!
*film horor-nya Alfred Hitchcock.

HANTU PELAYAN BERGIGI T-REX!

Aduh, menakutkaaaan...

Habis itu, screen gue langsung putih, kemudian muncullah foto gue lagi ditutupin setengah mukanya pake selimut Blue's Clues warna biru *kayak cadar. Gue lagi dalam ketakutan yang amat sangat.

Rupanya, foto itu diambil di level 5 *gue lupa setannya apa, pake webcam gue, aeuhahaha. Ih, muka gue bener-bener lagi nggak kobe. Kacamata gue miring pula, ukh. Aku jelek *ngaku.

Setelah lolos dari hotel kampretos chocolatos mama mia lezatos, gue nge-eject hardware microphone + headphone gue, terus ditaro lagi ke tas laptop. Dan kemudian kembali Y!M-an.

Gue: "Bon, gimana? Gue udah lulus nih B) *ngesok.

Bona: "Iyeee, lu enak. Gue masih sibuk sama si baby."

Gue: "Nyanyi aja deh bu."

Bona: "Oh, sip."

Yap, dan seterusnya gue memberikan tutorial step-by-step buat
Bona, sampe dia pun lolos *atau sebenernya dia quit, jam sebelas malem.

Hasya ngirim IM ke gue: Badyr, badyr. Webcam-an yuk?

Gue jawab aja, "Sip", dan mengirim invitation untuk melihat webcam gue. Dia pun sama, dan gue accept.

Gue melihat Hasya, sedang di kamarnya, memakai headphone. Terus gue ngirim, "Haaaai, aku melihat dirimu di screen laptopkuu..."

Dia pun melihat ke arah kamera dan ketawa-ketawa. Emangnya gue lucu gitu ya, sampe dia ketawa? Aw, malu akuwh *jijay.

Hasya: "Rambut baru, mbak?"

Gue: "Hahaha. Iyah, nyadar juga kau. Bagus nggak aku poninya Dora?"

Hasya: "Bagus, kok. Cantik."

Yah, diriku tersipu tersapu-sapu lagiiiii :"> *lebay.

Terus Bona nyusul, ngajak webcam-an. Gue pun mengirim invitation lagi. Dia juga, dan gue accept lagi.

"Bonaaaa... aih, kenapa anda senyam-senyum?" gue bertanya.

Bona: "Apa, siih? Elo tuh, beungeut (Elo tuh, muka)!" Uh, sembarangan.

Yap, kita bertiga pun webcaman nggak jelas, dari mulai makan-makan bareng (saling pamer makanan di webcam), terus maen boneka barbie *loh?, ngobrol-ngobrol, daaaan sebagainya. Dan... sirkus pun berhenti mengudara jam satu malem.

Gue ganti DVD dari "Inkheart", jadi "17 Again"-nya Zac Efron. Gue ngakak abis, soalnya lucu sih. Sedih pula, uhu uhu uhuuu...

Pas gue masih asik-asiknya nonton, pintu kamar gue berderit, padahal udah gue tutup. Aih, gue takut banget waktu itu. Was-was... gue meriksa setiap sudut kamar, takut ada yang berdiri di sana. Terus ngeliat ke balkon. Yah, nggak ada apa-apa. Fiuhh...

Orang bisa parno akibat liat yang horor-horor.

Menganggap ini semua cuma perasaan paranoid gue, gue pun menguji adrenalin *cih, dengan memasang DVD "Orphan", yang dilanjutkan dengan "Paranormal Activity". Ngaco banget gue. Untung gue ketiduran di tengah-tengah "Paranormal Activity", dan nggak sempet liat si Kathy kesurupan terus ngebunuh Micah. Serem.

Movie list for the night:













































Heeemm.. Tidur ah. Besok gue harus bangun pagi. Mau pergi pagi.

Jusqu'à la prochaine réunion par écrit! Bonsoir, amis!